Jumat, 27 Februari 2015

Robekan jalan lahir


BAB 1
PENDAHULUAN
A.       Latar Belakang Masalah
     Robekan pada jalan lahir dapat terjadi pada wanita yang telah melahirkan bayi setelah masa persalinan berlangsung. Persalinan adalah proses keluarnya seorang bayi dan plasenta dari rahim ibu. Jika seseorang ibu setelah melahirkan bayinya mengalami perdarahan. Maka hal ini dapat diperkirakan bahwa perdarahan tersebut disebabkan oleh retensio plasenta atau plasenta lahir tidak lengkap.
     Pada keadaan ini dimana plasenta lahir lengkap dan kontraksi uterus membaik, dapat dipastikan bahwa perdarahan tersebut berasal dari perlukaan dari jalan lahir. Perlukaan ini dapat terjadi oleh karena kesalahan sewaktu memimpin suatu persalinan, pada waktu persalinan operatif melalui vagina seperti ekstraksi cunam, ekstraksi vakum, embrotomi atau traume akibat alat-alat yang dipakai.
     Selain itu perlukaan pada jalan lahir dapat pula terjadi oleh karena memang disengaja seperti pada tindakan episiotomy. Tindkan ini dilakukan untuk mencegah terjadinya robekan perineum yang luas dan dalamnua disertai pinggir yang tidak rata, dimana robekan luka akan lambat dan terganggu.

B.     Tujuan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas mata kuliah kegawatdaruratan ( patologi ).

BAB II
PEMBAHASAN
A.    Persalinan Normal
     Persalinan normal adalah proses pengeluaran bayi dengan usia   kehamilan cukup bulan,letak memanjang atau sejajar sumbu badan ibu, persentasi belakang kepala, keseimbangan diameter kepala bayi, dan panggul ibu, serta dengan tenaga ibu sendiri.pada persalinan normal dapat berubah menjadi persalinan patologi apabila kesalahan dalam penilaian kondisi ibu dan janin atau juga akibat kesalahan dalam memimpin proses persalinan. (Saifuddin, AB. 2002)
     Persalinan normal adalah persalinan lewat vagina. Pada persalinan normal, proses persalinan diawali dengan rasa mulas dan keluarnya lendir bercampur darah dari vagina. Rasa mulas dan nyeri (his) biasanya datang secara teratur, semakin lama semakin kuat dan semakin nyeri, sampai anak berhasil dilahirkan. Proses kelahiran anak diikuti oleh kelahiran ari-ari. Seringkali jalan lahir mengalami robekan (ruptur perineum) dan butuh beberapa jahitan untuk memperbaikinya. (Paisal, 2007)
     Sebab-sebab terjadinya robekan jalan lahir adalah: Kesalahan sewaktu memimpin persalinan, persalinan operatif melalui vagina seperti ekstraksi vacum atau trauma akibat alat-alat yang dipakai, perlukaan jalan lahir yang terjadi karena disengaja seperti episiotomi.

B.     Robekan Jalan Lahir
     Pengertian robekan jalan lahir adalah Perdarahan dalam keadaan dimana plasenta telah lahir lengkap dan kontraksi rahim baik, dapat dipastikan bahwa perdarahan tersebut berasal dari perlukaan jalan lahir. Robekan jalan lahir meliputi : Robekan Vagina, Robekan Perineum, dan Robekan Serviks.
1.      Robekan vagina
      Robekan vagina sering terjadi sewaktu: Melahirkan janin dengan cunam/alat, ekstraksi bokong/presentasi bokong, Ekstraksi vakum, Reposisi presentasi kepala janin, umpamanya pada letak opksipito posterior. Robekan dinding vagina dapat timbul akibat rotasi forceps, penurunan kepala yang cepat, dan persalinan yang cepat.
     Penanganan: Pada perlukaan robek yang kecil dan supersfisial, tidak diperlukan penanganan khusus. Pada luka robek yang lebar dan dalam, perlu dilakukan penjahitan secara terputus-putus atau jelujur.

2.      Robekan Perineum
a. Pengertian Robekan atau laserasi pada perineum pada suatu persalinan karena sebab tertentu, robekan perineum umumnya terjadi di garis tengah dan bisa menjadi luas.
     Robekan perineum disebabkan oleh kepala janin lahir terlalu cepat, persalinan tidak dipimpin sebagaimana mestinya, distosia bahu, sudut arkus pubis lebih kecil daripada biasa sehingga kepala janin lahir lebih ke belakang daripada biasa, kepala janin melewati pintu bawah panggul dengan ukuran yang lebih besar daripada sirkumferensia suboksipito bregmatika, atau anak dilahirkan dengan pembedahan vaginal. (Sarwono, 2005:665)

b. Tingkat perlukaan pada Perineum
1). Derajat 1: Luasnya robekan hanya sampai mukosa vagina, komisura posterior tanpa mengenai kulit perineum. Tidak perlu dijahit jika tidak ada perdarahan dan posisi luka baik.
2).  Derajat  2: Robekan yang terjadi lebih dalam  yaitu mengenai mukosa vagina, komisura posterior, kulit perineum dan otot perineum. Jahit menggunakan teknik penjahitan laserasi perineum.
3). Derajat 3: Robekan yang terjadi mengenai mukosa vagina, komisura posterior, kulit perineum, otot perineum hingga otot sfingter ani.
4).  Derajat 4: Robekan yang terjadi lebih dalam yaitu mengenai mukosa vagina, komisura posterior, kulit perineum, otot sfingter ani sampai kedinding depan rectum. Penolong asuhan persalinan normal tidak dibekali keterampilan untuk reparasi laserasi perineum derajat tiga atau empat. Segera rujuk ke fasilitas rujukan. ( Siswosudarmo dan Emilia, 2008, JNPK-KR,2008)
3. Robekan Serviks
a. Robekan serviks dapat terjadi pada satu tempat atau lebih. Setiap menyelesaikan proses persalinan operatif pervaginam, letak sungsang, partus prematurus, plasenta manual, harus dilakukan pemeriksaan keadaan jalan lahir dengan speculum vagina.
 b. Sebab terjadinya robekan serviks yaitu: Partus presipatus (persalinan cepat ), Trauma karena pemakaian alat-alat operasi (cunam, perforator, vakum ekstraktor), Melahirkan kepala janin pada letak sungsang secara paksa padahal pembukaan serviks uteri belum lengkap, Partus lama, dimana telah terjadi serviks edema, sehingga jaringan serviks sudah menjadi rapuh. Pada robekan serviks sering terjadi komplikasi Sering terjadi perdarahan kadang-kadang perdarahan ini sangat banyak sehingga dapat menimbulkan syok bahkan kematian. Pada keadaan ini di mana robekan servik ini tidak ditangani dengan baik, dalam jangka panjang.

C.    Tanda dan Gejala Robekan Jalan Lahir
     Tanda dan gejala yang selalu ada yaitu Pendarahan segera, darah segar yang mengalir segera setelah bayi lahir, uterus kontraksi baik, plasenta baik. Serta tanda dan gejala  yang kadang-kadang ada: Pucat, lemah, menggigil.
      Ciri-ciri robekan jalan lahir ( robekan jaringan lunak ): Kontraksi uterus kuat, keras dan mengecil, perdarahan terjadi langsung setelah anak lahir, perdarahan ini terus-menerus,
( Penanganannya, ambil spekulum dan cari robekan).

D.    Cara Menghindari terjadinya robekan jalan lahir
1.   Senam Kegel
     Senam kegel adalah senam ringan yang bisa dilakukan selama hamil. Caranya adalah menahan otot-otot daerah vagina seperti menahan BAB. Lepaskan tahanan Anda, kemudian lakukan lagi hingga berkali-kali. Senam ini bisa dilakukan dimanapun Anda berada.
     Manfaat dari senam kegel adalah melenturkan otot vagina sehingga mudah melar saat bersalin. Tidak hanya itu, senam kegel juga mempercepat pengembalian otot vagina ke ukuran semula. Cara melahirkan yang satu ini memang terdengar aneh, namun sangat bermanfaat bila dimelakukan secara optimal.

2.      Awasi peningkatan berat badan bayi
     Seperti penjelasan di atas, robekan vagina juga disebabkan ukuran bayi yang terlalu besar. Untuk mengantisipasinya, awasi berat badan janin saat hamil. Usahakan tidak mencapai 4.000 gram. Cara melahirkan ini selain menghindari robekan juga mempercepat proses persalinan.

3.      Jangan angkat pantat
     Ibu yang sedang melahirkan dilarang mengangkat pantat karena akan menyebabkan robekan jalan lahir yang luas. Bila pantat Anda terangkat, tidak ada penyangga tekanan bayi sehingga otot mudah terkoyak. Ingat benar cara melahirkan yang satu ini karena rasa sakit saat persalinan seringkali membuat seorang ibu lupa segalanya.

4.      Proses pengeluaran cepat
     Pengeluaran bayi yang cepat juga menyebabkan terjadinya robekan. Seharusnya bayi keluar perlahan untuk memberikan kesempatan peregangan otot perineum. Penolong persalinan harusnya bisa menyangga perineum sehingga bayi tidak langsung keluar.

5.      Pijat perineum
     Pijat  perineum merupakan pijatan pada area perineum atau penguluran (stretching) lembut yang dilakukan pada minggu-minggu terakhir dari kehamilan sekitar minggu ke 34 atau minggu ke-35.
     Manfaat pijat Perineum: Membantu otot-otot perineum dan vagina jadi elastis sehingga memperkecil risiko perobekan dan episiotomi. Melancarkan aliran darah di daerah perineum dan vagina, serta aliran hormon yang membantu melemaskan otot-otot dasar panggul sehingga proses persalinan jadi lebih mudah. Mempercepat pemulihan jaringan dan otot-otot di sekitar jalan lahir setelah bersalin. Membantu ibu mengontrol diri saat mengejan, karena “jalan keluar” untuk bayi sudah disiapkan dengan baik. Membantu menyiapkan mental ibu terhadap tekanan dan regangan perineum di kala kepala bayi akan keluar.

 BAB III
PENUTUP
            A.    KESIMPULAN
    Kami dapat menyimpulkan bahwa perlukaan pada jalan lahir, sebagai akibat persalinan, terutama pada seorang primipara. Baik itu berupa robekan perinium, robekan serviks atau rupture uteri. Hal ini dapat dilatasi apabila seorang tenaga kesehatan dapat mengelolanya dengan baik.
            B.     SARAN
1). Sebaiknya bidan selalu memperhatikan kebersihan diri dan alat-alat yang digunakan
     dalam menolong persalinan untuk mencegah infeksi.
2). Bidan sebaiknya selalu memantau kontraksi ibu.
3). Sebaiknya bidan selalu memperhatikan kebersihan diri dan alat-alat yang digunakan.
4). Sebaiknya bidan selalu waspada jika terjadi perdarahan abnormal yang berlebihan
      setelah bayi lahir, dan segera lakukan rujukan ketempat pelayanan kesehatan terdekat
      jika terjadi perdarahan abnormal.
  
REFERENSI :




Tidak ada komentar:

Posting Komentar