Karya : Meri Diana .A
|
|
Sebuah cerita pendek
diceritakan oleh seorang anak dari suku Sunda asli, namun dia mencoba untuk
menceritakan kisah menarik seorang anak dari suku batak, Jawa, Sunda dan
tionghoa yang memiliki kemauan tinggi terhadap masa depan untuk membanggakan Ibu dan ayahnya. Ia mencoba menceritakan betapa besar pengabdian
seorang ibu dengan sendirian membesarkan anak semata wayang nya. Dan dikala
ia berusaha dan yakin untuk mendapatkan kebahagiaan itu, maka Tuhan
memberikan kebahagiaan berlipat ganda padanya.
|
|
cerpen
Senandung
kasih Ibu…
Gerak langkah sangat terdengar, bagiku suara merdu bagai pesona alam keindahan, kasih
sayangnya yang tak terhingga…
Aku lerlahir bertepatan dengan hari
Kartini, dengan kehidupan yang sangat sederhana, bukan terlahir dari keluarga
bangsawan ataupun kerajaan. Tapi impian mendapatkan kebahagiaan adalah hak
semua orang, keluarga yang sempurna adalah idaman setiap insan.
Setiap
pagi di kampungku selalu terdengar riuhan ombak kecil yang terbawa angin.
Seperti suara anak-anak kecil yang bermain riang.
“
Imong,,, Sarah”. TERIAK Ibuku dari luar yang membuatku langsung berlari keluar.
“ Iya bu, “. Berdiri dihadapan ibu tergesa-gesa.
“
Lama sekali kamu ini, sana kamu beri makan ayam –ayam dulu, Pastilah berisik
jika tak diberi makan!!!
Ibu berasal dari keturunan Batak dan
ayah dari Betawi, tapi darah Batak ibu sepertinya tak mengalir padaku. Karena
logat pun tak sama dengan ibu. Aku kadang suka aneh sendiri kalau ibu sudah
bicara, suaranya itu nan lantang sekali dan suaranya bisa terdengar sampai ke
ujung pesisir Pantai Kapuas.
Pagi ini tepat pukul 06:00 WIB saat
memberi makan ternak-ternakku, seperti
ayam, itik, angsa, dan bebek. Di kampung hanya aku dan ibu yang mempunyai ternak-ternak
seperti ini, karena orang disini kebanyakan memilih untuk menjadi nelayan dan
bercocok tanam, semenjak ayah meninggal 1 tahun yang lalu. Dulu ayah juga menjadi nelayan hebat,
setiap pulang pasti ayah selalu membawa hasil jaringan ikan yang sangat banyak
dan hasilnya pun dapat dijual ke Pasar Malingo.
Akhirnya aku selesai juga memberikan
makan pada ternak-ternakku. Tak lama terdengar kembali teriakan ibu.
“Sarah,
kalau sudah selesai masuklah”.
“Iya, Bu..”. Segera aku beranjak
dari ternak-ternakku.
“
Sarah masuk dulu ya.. kalian bersenang-senanglah”. Ucapku pada ternak-ternakku
yang ku anggap seperti sahabatku.
“ Iya Bu, ada apa ( dihadapan ibu) “
“
Sana cuci tangan kau, dan duduklah untuk makan”.
“
Iya bu,”.
Setelah
mencuci tangan aku langsung duduk dimeja makan yang terbuat dari kayu buatanku
dan ayah, walaupun sebenarnya tak membantu ayah tapi hanya ngeribetin ayah saja.
Masakkan
ibu sungguh sangat enak, satu persatu ibu menaruh lauk makanan dimeja makan.
Lalu Ibupun akhirnya duduk dihadapanku.
“
Aku ( Tersenyum ) “.
Ibupun
mengambilkan aku sesiuk nasi.
“
Angkat piring kau, sini “. Suruh ibu!.
“
( Menyodorkan piring ) sudah bu jangan terlalu banyak”. Kataku.
“ Kau itu harus banyak makan, badan kau itu terlalu kurus.” Kata Ibu.
“ Kau itu harus banyak makan, badan kau itu terlalu kurus.” Kata Ibu.
“
Baiklah .” ( Menurut, tanpa kata )
Setelah makan
aku ingin membereskan piring-piring yang kotor, namun.
“ Sudah bu biar aku saja yang membereskan.”
“ Sudah bu biar aku saja yang membereskan.”
“Tak
usahlah, sana main sajalah kau!.”
Ibuku
selalu begitu, berulang kali menyuruhku bermain padahal ibu tahu sendiri aku
tak punya banyak teman di Kampungku ini. Menjelang siangpun cuaca disini tetap
sejuk mungkin karena rumahku di pinggiran Pantai , angin sepoi-sepoi sangat
terasa sejuk sekali.
Sebelum aku pergi keluar rumah, aku teringat dengan buku pemberian
ayahku. Aku pun langsung mengambilnya di atas lemari bajuku.
“ Alhamdulillah, buku ini masih ada dan
belum dibakar oleh ibu, karena ibu selalu membakar buku-buku yang sudah tak
terpakai untuk menyalakan api didapur. “ Pikirku.
Aku pun berjalan keluar dan duduk
disebuah ayunan buatan aku dengan ayahku, yang kedua ujung ikatannya ayah
ikatkan pada pohon kelapa. Sambil berayun-ayun kecil kubuka buku yang ku pegang
ini, lalu ku baca kata demi kata, aku adalah seorang anak yang hanya
menyelesaikan sampai sekolah dasar saja, sudah hampir satu tahun aku belum
daftar ke sekolah menengah pertama semenjak ayahku meninggal, walaupun sangat
jarang sekali anak-anak disini yang melanjutkan sekolah apalagi hingga sampai
kuliah, karena jarak sekolah dari kampung kami lumayan cukup jauh sekali.
Sebagian
orang tua disini selalu beranggapan setinggi apapun pendidikan anak pasti
ujung-ujung nya akan menjadi nelayan itu
berlaku bagi seorang anak laki-laki sampai sekarang ini, sedang bagi anak
perempuan menjadi seorang isteri nelayan disini bagaikan kebiasaan
turun-temurun, dan yang sedikit membedakan dari mereka, mereka bisa menbuat
sebuah kerajinan dari kekayaan alam yang kami miliki, itu sudah nilai plus bagi
anak di Kampung ini.
Tapi
aku teringat dengan perkataan ayakku tepat sekali disini, ya… ayah pernah
mengatakan sesuatu padaku entah itu petuah ataupun doa dari seorang malaikat
yang berwujud ayahku, ayah berbisik dan sampai sekarang ini pun bisikannya
masih sangat terdengar di telingaku.
“
Sarah, kamu harus percaya pada diri kamu sendiri dan tentunya percaya pada
Allah swt, bahwa segala sesuatu itu dapat dicapai apabila kamu sungguh-sungguh
untuk menggapai sesuatu yang kamu inginkan. Dan keberhasilan itu dapat dilihat,
dari usaha yang kamu lakukan, buatlah perubahan mulai dari dirimu sendiri.”
Kata-kata
itu sangat terngiang dibenakku, namun aku yakin dibalik kata-kata tersebut
terdapat makna yang sangat besar, sebenarnya masih banyak lagi petuah yang
diberikan oleh ayah padaku sampai aku tak bisa menghitungnya satu persatu.
(
Wuss ) Suara angin sangat terdengar sekali, sampai membangunkanku dari
lamunanku, semua kenangan bersama ayah takkan aku lupakan, semua akan menjadi
lembaran teristimewa dalam hidupku.
Setelah
beberapa jam aku membaca ternyata aku tertidur di ayunan ini, dan aku baru
menyadari tidurku setelah Bardy teman semasa SD ku, membunyikan lonceng
sepedanya dan berhenti didekat ayunanku, sampai membuatku sangat terkejut.
“ Hahaha…. Sarah kau lucu sekali saat terkejut,
haha”. Kata Bardy menertawakanku.
“
Apa maksudmu, kenapa kamu berisik sekali, mengganggu tidur orang saja”. Jawabku
berlaga sebal.
“
Lagian tengah bolong begini tidur, nanti ada hantu tengah bolong loh”. Ucap Bardy sedikit berteriak karena angin
disini membuat suara yang keluar dari mulut kami pergi terbawa angin sampai
kelautan.
“ Mana ada hantu disini, kau bohong Bardy?.”
“ Mana ada hantu disini, kau bohong Bardy?.”
“
Siapa yang berbohong! “. Bardy
“
Terus mana? Memang kau melihatnya?”.
“ Hantunya kan dihadapanku hahaha…. “. Kata Bardy sambil mengayuh sepeda menuju rumahnya.
“ Hantunya kan dihadapanku hahaha…. “. Kata Bardy sambil mengayuh sepeda menuju rumahnya.
Aku
sedikit bingung dengan kata-kata Bardy entah karena aku baru bangun dari tidur
atau entah apa, baru sadar kalau dihadapannnya adalah aku.
“
Hah, Heh Bardy kau mengataiku seperti hantu”. Balasku sedikit marah.
Percuma
Bardy tidak akan mendengarkan ucapanku barusan karena dia sudah cukup jauh..
hem napasku pun berhembus, sampai akhirnya terdengar suara adzan dan aku
langsung masuk ke dalam rumah untuk melakukan shalat zuhur. Aku dan ibupun
langsung mengambil air wudhu, sebenarnya dari ibuku tidak semuanya menganut agama
islam nenek dan kakak ibuku sendiri menganut agama Kristen protestan, sedangkan
ibu dan kakek menganut Agama islam, tapi diantara kami tak ada perbedaan.
Setelah
shalat selesai aku bertanya pada ibuku.
“
Ibu, ayah pernah bilang padaku kalau aku menginginkan sesuatu aku tinggal
bilang sama Allah. Bagaimana Allah tahu apa yang kita inginkan?.”
“ Sarah, Allah selalu mendengar keluh kesah
kita kapanpun dan dimana pun, sekarang yang terpenting kau doakan bapak kau
agar tenanglah disana.”
“ Baiklah bu, aku selalu berdo’a agar bapak
bahagia disana”
Ibupun
hanya tersenyum setelah selesai berdoa dan membereskan alat shalatnya dan
akhirnya beranjak dari tempat ibadah kami yang menurut kami walau kecil tapi
disinilah kami selalu menghabiskan waktu untuk bermunajat kepada Allah.
@ @ @
Selesai
membereskan rumah aku langsung memberi makan ternak-ternakku yang dari tadi
sudah sangat berisik sekali. Saat aku membawakan makanan-makanan untuk mereka,
Mereka langsung berebut saat makanannya disimpan dikandangnya.
“
Sabar kawan kalian pasti kebagian kok.” Kataku.
Si
Bono, ya itulah panggilanku pada bebekku, Jalu pada Ayamku yang berjambul merah
tua, dan Dessy pada angsa putihku, mereka bagiku memiliki keunikan tersendiri, selalu
membuat hatiku tak pernah merasa sepi.
“ Kawan, sebenarnya ada hal yang
sangat aku inginkan, aku ingin sekali melanjutkan sekolahku sama seperti Bardy
dan Muti, tapi kapan ya..” Pikirku.
Memang susah kalau curhat sama
ternak, berisik sekali mereka tapi merekalah yang selalu menemaniku.
Sore pun tiba ibu menyuruhku
untuk mengambil telur-telur bebek yang sudah bertelur.
“
Sarah nanti kau cuci dulu telur-telur ini, baru kau masukkan ke keranjang ini”.
“ Iya Ibu…”.
Keesokan
pagi Ibu menyuruhku membawa pesanan telur asin untuk di bawa ke pasar yang lumayan
jauh dari rumahku.
“
Bawa 2 keranjang telur ini Mong, Koh Ucang sudah menunggu kau di Pasar!”.
“ Baik, bu..”
Beginilah kesibukan ku setelah
telur-telur Bebek yang di asinkan sudah selesai di asinkan lalu aku membawanya
ke Pasar. Aku terus berjalan sambil membawa 2 keranjang telur ditanganku,
kadang setiap kali banyak ibu yang berada dirumah-rumah yang aku lalui bertanya
padaku.
“
Sarah, mau mengantarkan Telur yah ke Pasar???” teriak seorang ibu yang sedang
menjemur pakaian di halaman rumah.”
“
Iya bu..” jawabku
Aku dikenal banyak orang karena aku
sering bolak-balik ke Pasar untuk mengantarkan telur-telur. Namun saat kaki ini
terus berjalan, tiba- tiba ada sepeda yang melaju padaku.
“
Awaaaas… “.
“ AAa ###@#…gUbrAkKkK “.
Aku pun akhirnya terjatuh, begitupun
dengan telur asin yang aku bawa. Tidak salah lagi pasti yang menabrakku itu
adalah Bardy.
“ Heh Bardy, kenapa sih kau senang
sekali menabrakku. Aku memang nya salah apa sama kau??”
“ Maafin Bardy
deh, tolongin Bardy dulu dong, bangunin sepedanya dulu, Bardy kejepit.”
“
Sudah menabrak, minta tolong pula”. Sambil menampakkan wajah jutek, namun tetap
membantu Bardy.
Akhirnya
Bardy membantuku memunguti telur asin yang berjatuhan. Untung lah tidak ada
yang pecah, setelah semua kembali seperti semula.
“ Kamu mau ke
Pasarkan, Sarah??”
“ Iya, sini
telur-telurku, aku harus cepat, Koh Ucang pasti menungguku.” Masih menampakkan
wajah jutek.
“ Bardy antar
deh, dengan sepeda Bardy biar kamu cepat sampai”.
“ Tidak usah, aku bisa jalan
sendiri”. Pergi dengan meninggalkan Bardy.
Namun Bardy
mengikuti Sarah dari belakang sambil menuntun sepedanya.
“ Sarah, Bardy bisa bantu kamu.
Bardy janji tidak akan membuat Sarah jatuh.
“ Kau, janji.” Membalikkan badan.
“ Kau, janji.” Membalikkan badan.
Akhirnya
aku diantar juga oleh Bardy karena memang sudah cukup lama aku di jalan, tak
enak rasanya jika aku telat. Bardy sangat bersemangat mengayuh sepedanya,
sampai membuatku pusing.
“ Pelan-pelan
Bardy, aku tidak mau telur-telur ini jatuh lagi.”
“ Kau tenang saja, Bardy itu
pembalap sepeda handal di pesisir sungai Kapuas ini, Sar.”
“ Apa yang handal, tadi saja kau
menabrakku, dasar.”
“ Yey Sarah
tadi itu kan salah satu triknya, sebantar lagi kita sampai, nih.”
Karena begitu cepatnya Bardy
mengayuh, perjalanan yang seharusnya di tempuh jalan kaki hampir satu jam, kini
hanya setengah jam.
“ Stop, Bardy..”
Akhirnya aku sampai juga di toko Koh
Acong, saat memasuki toko Koh Acong yang lumayan ramai. Koh Acong langsung
memaggilku duluan. Sampai membuatku terkejut.
“ Hey Sarah,
sini cepat..”.
“ Menyerahkan 2 keranjang telur, maaf ya Koh.”
“ Menyerahkan 2 keranjang telur, maaf ya Koh.”
“ Ah, tak apa.. duduk saja dulu,
ajak temanmu sini.”
Duh aku pikir Koh Acong akan marah,
Koh Acong memang sangat baik, aku jadi teringat dengan bapakku. Wah toko Koh
Acong memang sangat ramai. Dan telur-telur yang aku bawa barusan pun sudah
hampir habis satu keranjang, sesaat menunggu Koh Acong sepi pembeli.
“ Nah, maaf ya
Sarah menunggu lama.”
“ Ah tak apa, Koh. Warung Koh ramai
sekali ya.”
“ Ya Koh juga
bersyukurlah, nih Koh bayar 2 keranjang telur yang kau bawa tadi.”
“ Wah Koh separuhnya dulu juga tak
apa, kan biasa seperti itu.” Jawabku.
“ Nda-nda,
salah satu kenapa warung Koh ramai, ya itu karena telur asin yang kau bawa,
lihat 1 keranjang sudah mulai habis, haha.”
“ Iya koh, semoga semuanya laku
terjual ya Koh.”
“ Ya, ya..
kalau kau mau main ke sini. Main saja ajak teman kau itu ( menunjuk Bardy yang
menunggu diluar dengan laganya yang aneh).”
“ Iya Koh, Pasti..”
@@@
“ Kau mau ajak aku kemana, Bardy???”
“ Tenang, aku
akan ajak kau ke tempat yang tak pernak kau kunjungi. Sarah .”
“ Hah, tempat apa… ?”
“ Diam saja
lah dulu, nanti saja kau bergumamnya..”
“ Kau janji ya, jangan menjailiku
lagi..”
“ Iya,,”
Semua berlalu bersama semilir angin
di selingi oleh indah nya cahaya senja yang mulai menghilang, bah mentari yang
menampakkan rona malunya, serasa menjelajahi alam bawah sadar. Aku tak tahu
Bardy akan membawaku kemana aku selalu berprasangka negatif pada nya karena dia
memang selalu menjailiku.
“ Sudah
sampai… !!!!”.
“ Wah,,, Indahnya”. Kataku sambil
aku turun dari sepeda Bardy dengan perlahan, dan langsung mendekati obyek yang
begitu indah dengan tanpa memperdulikan yang lainnya.
“ Apa kau suka, Sarah??”. Tanya Bardy
sambil melipat kedua tangannya, membanggakan diri.
“ Bunga-bunga ini nan indah sekali,
aku sungguh baru melihatnya. (Ini adalah Bunga Anggrek Cymbidium yang tumbuh di
musim tropis yang sejuk begitu kata bukuku. Dan kadang sering tubuh di iklim
sedang).. dari mana kau tahu tempat bunga ini??
“ Sussst… jangan kasih tahu
siapa-siapa ya, hanya aku saja yang tahu tempat Bunga ini.”
“ Kau serius, tumben sekali kau
pintar Bardy..??”
Tak sedikitpun rasa ingin beranjak
dari hadapan Bunga yang indah ini, maha besar Allah yang menciptakannya.
Ternyata Bardy bisa juga serius, anak Kalimantan Asli batak kental bercampur
darah melayu ini membuat sedikit kebahagiaan.
Saat
malam tiba, sesudah shalat isya aku langsung membaca kitab suci Al-Quran kubuka
perlahan untuk mencari surat Ar-Rahman yang artinya yang maha penyayang, aku
sangat suka dengan surat ini, karena banyak sekali pengulangan kata yang
memiliki arti yang sangat besar, yang artinya nikmat Allah manakah yang kau
dustakan.
Dari
sekian bacaan Al-Quran yang begitu indah ini salah satu yang aku sukai.
“
Shadaqalllahul adzim…”.
Segera ku bereskan alat shalatku,
dan aku langsung menghampiri ibu yang sudah memanggilku dari tadi.
“ Ada apa
bu???” tanyaku sambil memegang kursi yang ibu duduki tepat disampingnya.
“ Duduk lah, di kursi”. Nada suara
ibu dengan begitu lembut.
Aku langsung
menggeser kursi dan duduk tepat di samping ibu.
“ Ada apa
ibu???”. Tanya ku penasaran, sambil melihat sesuatu yang berada di meja yang
dari tadi terus ibu pegangi.
Untuk beberapa detik tak ada suara
diantara kita berdua.
“ Nak.?” Tanya ibu lagi, yang
membuatku semakin antusias, dan lebih mendekatkan tubuhku pada ibu.
“ Iya bu???”.
“ Bapak kau memberikan pesan pada
ibu, dulu ibu dan bapa mu pernah membicarakan ini sebelumnya.” Kata ibu
membuatku ingin mendengarkarkan kata demi kata secara jelas.
“ Apa, bu?”.
“ Ini ( menunjukan benda didalamnya
yang ku tak tahu isinya apa) adalah hasil kerja keras bapa kau dan ibu, bapa
kau ingin sekali menyekolahkan kau sampai menjadi seorang dokter, namun Tuhan
berkehendak lain. Tak banyak yang ibu kumpulkan, maafkan ibu, cita-cita kau
terhambat karena ibu tak bisa membiayai kau.” Jelas ibu.
Aku sangat terharu mendengar
kata-kata ibu, aku langsung memeluk ibu dengan erat sambil meneteskan air mata.
“ Ibu tidak usah cape-cape bu, Sarah
tak apa tak sekolah seperti Bardy, Dina, Agus. Asalkan Sarah masih bersama ibu,
bu” Kataku sambil terus memeluk ibu.
“ Nda-nda nak.. kau harus
melanjutkan sekolah, kau raih cita-cita kau itu, ibu akan berusaha mencari
biaya untuk kau sekolah, kau harus membanggakan ayah kau, nak.”
Aku terus merengek menangis di
pelukan ibu seperti selayaknya anak-anak usia12 tahun lainya. Aku sungguh
terharu mendengarnya, karena hanya ibu saja yang aku miliki sekarang ini.
“ Sudah nak, kenapa kau menangis,
maaf kan ibu ya. Kau tidak bisa satu kelas bersama teman-teman kau.”
“ Tak apa, bu. Terima kasih bu.”
Bagiku ibu
adalah ibu yang sangat luar biasa, aku tak bisa hidup tanpamu ibu. Di pelukanmu
aku bersemayam nan hangat nya ibu.
Tahun ajaran sekarang aku baru akan
melanjutkan sekolahku, tak apa beberapa temanku sudah sudah kelas VII sedangkan
aku baru masuk, yang penting aku bisa bersekolah itupun lebih dari cukup.
Terima kasih ibu, kau pahlawan bagiku.
Ini adalah hari pertamaku masuk di
SMP kepoyan, dulu aku selalu pergi bersama dengan teman-temanku salah satu nya
Bardy, dan sekali jarak rumah ku ke sekolah baruku lumayan cukup jauh, jika di
tempuh dengan jalan kaki bisa hampir satu jam aku bisa sampai kesana. Tapi tak
apa lah, aku harus tetap bersyukur, hem,, saat tidak hujan aku masih bisa cepat
sampai namun jika saat hujan turun aku harus melepas sepatu lamaku ini beserta
kaos kakinya, karena jalanan pasti akan jadi lengket.
“ Akhirnya aku
sampai juga..” Pikirku.
Koronteng.. koronteng..koronteng.
“ Wah, lonceng
sudah berbunyi, aku harus cepat masuk kelas, aku tidak boleh telat karena ini
hari pertamaku masuk sekolah.”
Wah inilah teman-teman baruku,
dimana kita satu kelas selama 1 tahun kedepan ataupun 3 tahun, aku ternyata
mendapati tempat duduk di barisan kedua dari depan, tak apa asal jangan kesatu
karena terlalu dekat dengan meja guru, hihi.. sering di tanya duluan kalau ada
tugas, asalkan juga jangan paling belakang karena terkadang ada saja anak-anak
yang berisik jadinya kan merusak konsentrasi gitu, bener gak?
Hari pertama ternyata hanya untuk
perkenalan saja, padahal aku ingin sekali langsung belajar, sejak SD aku sangat
menyukai pelajaran Matematika dan Ipa aku tidak tahu kenapa.
Kolontreng..kolontreng…kolontreng.
Akhirnya
Lonceng pertanda pulang dibunyikan juga, ternyata bosan juga ya mendengarkan
anak-anak ngomong satu-satu, semuanya beragam ada yang pemalu, grogi, gagap,
lucu dan antusias seperti halnya aku.
Aku langsung keluar kelas, dan saat
itu aku melihat Bardy dan Dina.
“ Loh kalian
belum pulang???”. Tanya ku.
“ Kita menunggu kamu Sarah.” Jawab
Dina.
“ Kenapa
kalian menungguku.” Ucapku memperjelas.
“ Sudahlah, ayo kita pulang.”
Ini Dina, dina adalah temanku
seperti yang aku ceritakan tadi, mereka baik sekali mau menungguku.
“ Aku jalan
duluan ya, kan kalian bawa sepeda.” Kataku memelas.
“ Kita kan mau ajak kamu untuk ikut
bareng, masa kamu jalan kaki sih.” Kata Dina sedikit kecewa.
“ Iya lagian
ikut saja bareng kita.” Timpal Bardy.
Akhirnya aku ikut bersama Dina,
rumah Dina dan aku lumayan cukup jauh sih, tapi dia berbaik hati memboncengiku.
Walaupun dia anak kepala desa satu-satunya tapi dia tidak sombong. Saat di
perjalanan…
“ Wah,
sepedamu bagus ya Din, warnanya merah muda depannya ada keranjangnya lagi jadi
tas kamu bisa ditaruh disitu.”
“ Terima kasih Sarah, kamu boleh ko
memakainya kalau kamu mau.” Tawar Dina padaku sambil tersenyum dan tanpa henti
mengayuh sepedanya.
“ Tapi…”
jawabku memelas sambil menundukan kepala dan masih tetap berpegangan pada
pinggang Dina.
“ Tapi kenapa Sarah?.” Ucap Dina
penasaran.
“ Aku belum
bisa mengendarai sepeda, Din. Aku belum pernah punya sepeda kecil yang cocok
untukku, dulu sewaktu ayahku masih ada ayah selalu ajak aku keliling kampung,
pasar dan pesisir pantai dengan sepedanya yang tinggi, walaupun sudah tua sih
usia sepedanya. Tapi sekarang sepedanya sudah dijual oleh ibuku, karena aku dan
ibu tidak bisa mengendarainya.
“ Kamu tenang saja, kalau ada waktu
nanti kita belajar bersama, Sarah”.
“ Kamu mau
mengajariku, Dina???.” Tanya ku antusias.
“ Iya,,”. Jawab Dina singkat.
Aku sangat beruntung memiliki teman
sebaik Dina, terima kasih Tuhan kau telah memberikan aku teman sebaik Dina.
“ Sudah
sampai, ini kan rumah kamu Sarah.”
“ Iya, ( Turun dari sepeda ) apa
kamu ingin main dulu, Dina?”
“ Ah tak usah,
aku langsung pulang saja, aku kan belum minta izin pada orang tuaku.”
“ Oh,, iya, hati-hati ya Dina.”
“ Dah Sarah.”
Dina pun menghilang dari pandanganku begitupun dengan Bardy.
Saat keesokannya, aku baru saja keluar
rumah untuk berangkat sekolah. Dina sudah memanggilku.
“ Nak, de Dina
sudah ada didepan tuh.” Teriak ibu yang sedang memberikan makan pada ternak-ternakku.
“ Iya, bu.” Tak lupa aku mencium
tangan ibu dan meminta izin pada ibu karena sepulang ini aku mau langsung
kerumah Dina dulu untuk belajar sepeda.
Segera ku berangkat bersama Dina,
Agus dan Bardy yang dari tadi mereka sudah menungguku. Rasanya senang sekali
bisa berangkat bersama mereka lagi, tertawa bersama mereka lagi, tapi terkadang
ada jailnya juga sih, hahaha.
“Ayo
Sar, kamu pasti bisa”. Teriak Dina setelah dia mendorong sadel belakang sepeda
yang aku kendarai.
Aku sangat takut sekali, sesekali
aku terjatuh dan menjatuhkan sepeda milik Dina, tapi aku harus optimis bisa,
dan aku harus bisa.
“ Hah, aku
sangat cape sekali Sarah”. Ungkap Dina sambil menjulurkan kedua kakinya dengan
duduk di tanah yang dilapisi pasir.
Aku segera berhenti di hadapan Dina
yang sedang duduk, dan menjatuhkan sepedanya sedikit perlahan, dan langsung
ikut duduk bersama Dina.
“ Seru juga ya
Dina bersepeda itu.” Ucapku sambil memperhatikan sepeda Dina yang dibalut cat
merah muda terlihat sekali anggunnya.
“ Memang iya, aku teringat saat ayahku
mengajari aku bersepeda sejak aku kelas 5 SD.” Jawab Dina singkat.
“ Kamu sangat
beruntung ya Din, bisa diajarkan oleh ayahmu, sedangkan aku sampai ayahku
pergipun aku belum pernah di ajarkan sekalipun.”
“ Maafkan aku ya, jika membuat kamu
sedih Sar, kamu jadi ingat tentang ayahmu.” Kata Dina sambil mengalihkan
pandangannya padaku.
Sekitar pukul 05:00 sore aku
diantarkan pulang oleh Dina.
“ Dah Dina,
hati-hati ya Dina..”
Lambaian tangan Dina pun mulai
menghilang dari pandanganku, akupun mulai mengetok pintu namum ibuku sudah
membuka pintu terlebih dahulu mungkin karena teriakku barusan, setelah mencium
tangan ibu.
“ Belajar apa
saja nak.” Tanya ibu ingin tahu, sambil kami masuk ke dalam rumah.
“ Bu, tadi aku belajar bersepeda
dengan Dina, seru deh bu. Sepeda Dina bagus banget ada keranjangnya didepan
bu.” Aku menceritakan kegiatanku hari ini penuh, dan ibu mendengarkan secara
seksama tak mau mengganggu pembicaraanku pada ibu.
“ Iya nak,
nanti kalau ibu sudah punya uang kita beli ya.”
“ Gak, bu. Sarah cuma cerita aja ko
bu, tidak usah memaksakan bu, Dina juga sudah baik sekali meminjamkan aku
sepedanya.” Kata ku menjelaskan kembali.
Aku segera masuk sambil melepas
lelah karena seharian ini aku bermain sepeda bersama Dina. Ibu sangat
pengertian sekali padaku, kasihnya sungguh tidak bisa ku balas.
Kenaikan
tahun ini ibu datang ke sekolahku, kata Dina setiap kenaikan kelas Bu Guru akan
mengumumkannya di atas panggung yang terbuat dari kayu-kayu yang sederhana yang
ditinggikan.
Aku sangat deg-degan sekali, karena ibuku ada
di barisan orang tua yang menghadiri anaknya, ketidaklengkapan ku karena tidak
adanya ayah, sangat terasa. Menunggu detik-detik secarik kertas yang dipegang
Bu Guru, yang membacakannya, membuat ketegangan suasana disini sungguh terasa.
Rangking
ketiga sudah dipanggil ke atas panggung.
Wah pasti
senang ya dapet rangking ke 3, begitu pun dengan rangking ke 2.
“Sepertinya
tidak ada harapan untukku”. Pikirku.
“ Jangan pesimis begitu dong, aku
yakin kamu dapet juara, Sar.” Kata Dina yang duduk di sampingku.
Detik-detik terakhir, membuatku semakin ciut, aku tidak
sanggup melihat raut wajah ibu yang kecewa.
“ Juara pertama Sa-rah”. Akhirnya
balon dipecahkan juga oleh bu guru.
Serentak Dina
langsung berdiri dan menarik aku dari kursi, aku sungguh tak percaya. Melihat
raut wajah ku yang pelongo kebingungan.
“ Ayo Sar,
naik cepet.” Kata Dina.
Subhanallah, aku masih tak percaya.
Terimakasih untuk Allah swt, aku berikan juara pertama ini untuk ayahku yang
selalu memberikan semangat untuk ku dan juga untuk ibuku. Aku melihat raut
wajah ibu dari kejauhan ini kali pertama aku melihat mata ibu berkaca-kaca.
Senyum ibu terlihat bangga.
“ Ini berkatmu
ibu, yang selalu mendorongku untuk menjadi lebih baik.” Ucapku dalam hati.
Piala pertamaku di sekolah SMP pun
telah dibagikan. ini adalah penghargaan pertama untukku. Semoga aku bisa
menjadi lebih baik lagi untuk selanjutnya.
@@@
Setelah lulus SMP aku langsung
melanjutkan sekolahku ke SMA, sekolah baru juga lumayan jauh dari rumahku.
Tetapi ibuku selalu memberikan semangat untukku untuk tidak pantang menyerah
begitu saja. Ya aku harus bisa, aku tidak boleh membuat ibu kecewa dan tentunya
ayahku yang jauh disana pasti sudah menunggu kesuksesanku.
“ Nak, …”. Kata ibu padaku sambil
terbatuk-batuk berat.
“ Ibu, kalau
ibu sakit ibu istirahat saja biar Sarah yang menyelesaikannya.” Jawabku sambil
melepaskan pisau dari tangan ibu.
“ Tidak usah nak, ibu bisa
menyelesaikannya, lebih baik kamu yang istirahat besok kan kamu sudah masuk di
sekolah mu yang baru.” Sambil terbatuk-batuk ibu tetap keras kepala
menyelesaikan pekerjaannya membuat adonan kue pesanan tetangga, karena sekarang
ibu mendapat pekerjaan baru membuat kue-kue basah dan kering dan aku sering
membawanya ke sekolah ataupun ke pasar untuk dijual.
Sambil terus memperhatikan ibu yang
sangat serius sekali membuat kue pesanan, sampai ia tidak peduli dengan
kesehatannya. Ibu mungkin terlalu capek memutar balikkan kepala untuk membiayaiku
sekolah, ibu selalu bilang, ibu bangga melihat anaknya yang mau bersekolah dan
mau berusaha, tetapi ibu tidak bangga apabila anaknya berhenti sekolah.
“ Ibu…”.
Ucapku sambil memegang tangan ibu, sampai ibu memandangku.
“ Kenapa, maafkan Sarah ya Bu, Sarah
belum bisa memberikan yang terbaik untuk ibu.” Sambil ku memeluk kedua kaki ibu
yang sedang duduk di kursi.
“ Kamu tidak
buat salah pada ibu, ibu yang minta maaf. Tidak memberikan kebahagiaan sama
kamu seperti teman-temanmu yang lainnya.”
“ Bu, ini sudah lebih dari cukup,
aku bangga punya ibu seperti ibu, Bu. Aku sayang ibu .”
“ Ibu juga
sayang kamu Sarah.”
Malam pun larut dalam kerinduan yang
sepi tetapi kebahagiaan saat bersama ibu tidak akan ada yang bisa
menggantikannya, ibuku adalah wanita yang kuat dan mandiri, setelah besar nanti
aku ingin sekuat ibu aku ingin setegar ibu, yang membanting tulang untuk
anaknya. Pergantian malam dimana besok aku akan masuk di sekolah SMA ku yang
baru.
Ya, pagi ini aku bersiap untuk
meraih impianku semakin ku tunjukan wujud semangatku dan kulakukan dengan
tindakan semakin ku dekat dengan kesuksesanku, aku ingin melihat ayah yang berada
disana bangga begitupun dengan ibu, melihat anaknya menggantungkan stetoskop
dilehernya dan membantu orang-orang yang memerlukan bantuan, teringat kesehatan
itu sangat penting, tatkala aku teringat kepada sakit nya ayah yang tak bisa
tertolong karena sulitnya biaya pengobatan dan jarak dari rumah sampai ke rumah
sakit juga sangat jauh sekali.
Aku
hanya ingin ada balai pengobatan yang dekat dengan kampung halamanku, agar
orang – orang yang sakit dapat langsung dibawa ke balai pengobatan terdekat, ya
paling dekatpun jaraknya bisa hampir 1 jam perjalan itupun puskesmas yang
perlengkapan medisnya jauh dari sempurna.
Rasanya senang dapat bertemu teman
baru, dan mata pelajaran yang aku senangi kini semakin fokus ku pelajari yaitu
Sains dan Matematika, entah kenapa aku sangat senang dengan dua pelajaran ini,
ya Sains itu adalah pelajaran yang membuat kita mengetahui tentang dunia dan
seisinya, sedangkan matematika adalah pelajaran yang tidak ada batasnya karena
setiap hitungan pasti memiliki rumus yang berbeda itu adalah tantangan
tersendiri bagiku.
@@@
“ Hai Sarah, ??”. Sapa salah satu
temanku.
“ Hai, “. Ku
jawab dengan senyuman dan begitupun dengannya.
“ Apa aku boleh duduk di samping
kamu .”
“ Oh
silahkan,” jawabku. Sambil duduk-duduk di teras sekolah yang belum masuk lagi
setelah jam istirahat.
“ Aku boleh nanya gak ?.”
“ Nanya apa,,
?.” jawab ku penasaran.
Ini adalah awal pertemananku bersama
Wanda, Wanda anaknya cantik, baik dan lemah lembut tapi dia sedikit kurang
mampu dalam pelajaran eksak, berulang kali dia selalu meminta bantuanku dalam
mengerjakan PRnya dengan senang hati ku membantunya, karena dia pun terkadang
sering membantuku saat menjual kue-kue buatan ibu. Terima kasih Tuhan Engkau
selalu mendengar doa dan harapanku, Engkau berikan lagi aku sahabat yang baik
sama seperti Dina dahulu yang sekarang dia melanjutkan sekolahnya di Semarang
bersama paman dan bibinya.
“ Kue-kue
buatan ibu kamu sangat enak Sarah, kapan-kapan aku beli lebih ya aku pengen
belikan ibuku agar ibu ku bisa mencobanya, ibu ku itu sering mengadakan
pengajian mingguan ataupun bulanan, Sarah.” Kata Wanda, sambil mengunyah kue –
kue buatan ibuku.
“ Ya sudah nanti kamu bilang saja
kalau ibu mu suka Wan,” Jawab ku bahagia.
“
Kapan-kapan ajarkan aku ya Sarah tentang Matematika, kamu itu jago banget sih
Matematika nya gak pernah dapet nilai 80, aku saja 70 pun jarang banget dapet.”
Keluh Wanda sambil sedikit menunduk.
“ Kamu tidak boleh begitu Wan, Kalau
kamu pengen bisa ya kamu harus berusaha begitu kata ibuku dan ayahku.”
“ Ibumu pasti
cerdas ya bisa mengajarkanmu, dan ibu mu jangan-jangan guru Matematika lagi...”
“ ( Aku menggelengkan kepala tanpa
sedikitpun menunduk ) .”
“ Kenapa?.”
Wanda semakin penasaran.
“ Ibuku bersekolah hanya sampai
kelas 6 SD,walaupun ibuku bukan lulusan SMA ataupun Sarjana, tapi aku bangga
dengan ibuku, sikapnya yang membuatku nyaman, kata-katanya membuat ku semakin
bersemangat untuk mengarungi hidup yang keras ini, tujuan ku setelah meraih
semua impian ku ini aku ingin membuat ibuku bangga Wan, hidupku jauh dari
kesempurnaan tetapi saat bersama ibu dan mendapatkan pelukan kasih dan senyuman
bahagia nya itulah arti kesempurnaan hidupku yang sebenarnya.”
“ hikhikhik..”
terdengar isak kecil dari Wanda.
“ Loh kenapa Wan???.” Bingung aku
melihat wanda meneteskan air matanya.
“
Aku kagum aja Sar sama kamu, kamu terlihat dekat sekali sama ibu kamu. Kamu
sangat sabar dan selalu semangat menjalani kehidupan kamu.” Jelas Wanda.
“ Ya, kita tidak boleh menyerah Wan,
siap gak???.”
“ Dari tadi
kamu ngomong, sekarang gimana caranya biar aku bisa dengan mudah menghitung dan
mendapat nilai bagus dalam pelajaran Matematika, Sar?.” Tanya Wanda dengan
polosnya.
“ ( AHGGG @#?@??? ), memangnya kamu
gak paham dengan perkataanku tadi .”
“
ENGGA..!!!!.”
“ ( Gubrak ### ), Wanda-wanda kenapa
gak menyimpulkan sih, haha kamu lucu sekali..”. Dengan gaya polosku tertawa
kecil.
“ Wanda jadi
menggaruk kepala nya yang tidak gatal “
@@@
Cukup mengesankan aku bersekolah
disini Alhamdulillah atas seizin Allah SWT aku bisa mempertahankan prestasiku
yang aku bangun sejak aku duduk di Bangku SMP. Sampai sekarang menurutku
nilai-nilaiku tetap diatas rata-rata. Sampai teman-teman juga mempercayaiku
untuk mengajarkan les bersama dirumah mereka tentang mata pelajaran yang akan
di UN kan, setelah kita semua mengikuti bimbingan belajar oleh guru, tapi
teman-temanku masih tetap merasa kurang. Dan mereka jadi meminta bantuan ya padahal
kita memang bisa belajar bersama karena berbagi ilmu aku jadi bisa mengulang
pelajaran yang sudah dipelajari.
Tapi
Alhamdulillah dengan sekali aku mengajarkan mereka tentang beberapa perhitungan
setiap sepulangnya mereka mengumpulkan uang dari mulai 20-30 ribu untuk satu
kali pertemuan. Ini semua sangat berarti bagiku untuk membeli bahan-bahan
membuat kue untuk ibu agar ibu bisa menghasilkan kreasi-kreasai baru lagi.
“ Terima kasih ya Sar, proses
pengerjaan soal-soal ujian itu serasa lebih mudah dari mu dari pada dari pak
guru.” Celoteh salah satu temanku yang ikut belajar bersama.
“ Sebenarnya
memang banyak cara, Ras. Dirumah aku hanya selalu mencoba dan terus mencoba.
Ternyata setelah di hitung-hitung hasilnya sama dengan rumus yang diberikan
oleh pak guru.” Jawabku sedikit mengerutkan kedua mata Laras.
“ Aku seneng deh Sar, kamu itu
memang pintar. “ Puji Laras sambil menaiki sepedanya.
Disekolah aku mempunyai sahabat dan
teman-teman yang baik, mereka selalu membantu ku saat aku terlilit kesulita saat
pembayaran keuanganku belum terbayarkan. Tanpa berat hati mereka mengumpulkan
uang untuk ku. Terima kasih untuk kalian semoga suatu saat nanti aku bisa
membayar kebaikan yang kalian berikan padaku.
“ Assalamualaikum.” Setelah ku
ucapkan salam sampai 3x ibu tidak menjawab salamku, ternyata setelah aku buka
pintu tidak dikunci oleh ibu. Setelah aku masuk kedalam rumah aku melihat ibu
terjadi di samping tempat tidur ibu. Perasaanku langsung tidak karuan aku
sangat panik sekali, aku langsung membangunkan ibu kembali dan mengembalikan
nya ke tempat tidur.
“ Ibu, ibu
kenapa bu ?.” Tanya ku sambil meneteska air mata, aku sangat takut ibu
kenapa-kenapa.
“ Ibu tidak kenapa-kenapa nak .”
Jawan ibu sambil menahan batuk nya.
“ Sebentar bu
Sarah ambilkan air minum dulu.” Ucapku sambil mengusap airmata dipipiku. Dengan
segera ku kembali, langsung ku minumkan air minum pada ibu.
“ Ayo bu minum dulu, bu aku beli
obat untuk ibu, ibu minum dulu ya obatnya.” Suaraku di penuhi dengan isak
tangis sampai membuat ibu ingin mendudukan tubuhnya dari rebahannya.
“ Kamu dapat
uang darimana nak, ini kan obat nya mahal.” Jawab ibu semakin membuatku merasa
gelisah.
“ Ini uang dari pemberian
teman-temanku bu, ibu jangan marah dulu. Aku dapat pemberian karena aku sudah
mengajarkan mereka bu seperti les mata pelajaran bu.” Jelasku pada ibu.
“
Apa benar begitu nak,”. Keluh ibu ingin suatu kesungguhan dariku.
“
Iya bu, sekarang ibu minum dulu ya.” Ku bantu ibu untuk meminumkan obatnya,
agar ibu bisa cepat sembuh.
Akhir –akhir ini kesehatan ibu
semakin menurun andai aku cepat menjadi seorang dokter, aku kan berusaha
menyembuhkan penyakit yang ibu derita, pernah sekalinya ku ajak ibu untuk
memeriksakan kesehatan ibu ke puskesmas, setelah diperiksa ibu cuma batuk-batuk
biasa dan ibu memang perlu istirahat banyak, tapi tahu sendiri ibu paling keras
kepala kalau di suruh istirahat, tangan dan kakinya gak betah kalau gak kerja.
“
Istirahat ya bu, ibu tidur aja dulu sekarang jangan buat kue dulu.” Ucapku sambil
bergetar kedua bibirku dan langsung kupeluk rebahan tubuh ibuku. Aku tidak mau
ibu sakit lagi ya bu, hanya ibu yang aku punya sekarang ini bu, ibu jangan
memaksakan diri kalau ibu tidak kuat bekerja aku sayang ibu . Mendengar
perkataan demikian terlihat tetesan airmata menetes dari ujung mata ibu dan aku
langsung hapuskannya.”
“ Sekarang ibu tidur ya bu, Sarah
mau mandi dulu, kan Sarah baru pulang sekalian mau shalat magrib sebentar lagi
mau adzan.”
“ Iya, nak.
Terima kasih ya kalau saja ayahmu melihat putrinya sudah besar dan cerdas pasti
ayahmu sangat bangga sekali melihatmu.” Ucap ibu sambil mengusap-usap tanganku.
“ Sudah ibu jangan memikirkan
apa-apa dulu ya Bu.”
@@@
Setiap perjalanan hidup yang harus
dilalui pastilah sudah diatur jalannya begitupun dengan aku, ingin rasanya ku
memutar balikkan waktu saat-saat bersama ayahku. Kenangan indah yang tak bisa
kulupakan dan aku tak mau lagi Engkau merenggut kebahagiaan ku satu-satunya di
dunia ini Tuhan, aku ingin melihat ibu melihat hasil dari usahaku semua karena
doa ibu, aku ingin melihat ibuku bahagia.
“ Eh, gimana nih sebentar lagikan
kita pesta pelulusan, kira-kira mau kemana ya??.” Tanya salah satu temanku yang
saat ini kami sedang berkumpul di depan kelas karena tidak ada kegiatan.
“ Kurang tahu
sih masih kabar burung terus, ada yang bilang merayakan di sekolah ada juga
yang bilang kita akan pergi keluar gitu.” Jelas Dila yang duduk di sampingku.
“ Ya, sebenarnya itu kan gimana
kita, karena yang punya acara kan kita.” Potong Agus sambil terus memainkan Hp
nya.
“ Eh Sar kok
kamu diam aja sih dari tadi, gak mau kasih argument gitu.” Tanya Dila pada ku.
“ Aku, hem.. aku sih gimana
kebijakan sekolah aja.” Timpasku sambil menghembuskan nafas panjang dan sedikit
gugup..
Aku hanya banyak diam saat
teman-temanku sibuk dengan pesta perpisahan aku sendiri sibuk memikirkan uang
prmbayarannya, karena ini adalah acara kita makanya pak kepala sekolah
mewajibkan untuk para siswa dan siswinya untuk mengikuti nya.
Tidak sampai tengah hari akhirnya
kita semuapun pulang, teman-temanku sempat mengajakku bermain dulu kerumahnya,
aku sempat menolaknya namun mereka menarikku untuk ikut. Akhirnya aku ikut ke
rumah Dila, aku kenal Dila saat duduk di kelas 3 SMA. Dila anaknya cantik,
pintar dan dia baik sekali padaku, beberapa kali dia membantuku dan memahamiku
saat aku tidak bisa kekantin karena tidak punya uang jajan.
“ Ayo Sarah,
Agus, Dila, Dina. Masuk…” Ajak Dila sambil dia melepaskan sepatunya di tangga
rumahnya.
Saat kami mengucapkan salam
keluarlah seorang wanita cantik memakai baju gamis dan hijab nan rapih dan
cantik aku pikir beliau adalah orangtua Dila.
“ Eh kamu
sudah pulang, wah rame ya..” jawab wanita tersebut Dilapun mencium tangan
beliau begitupun dengan kami semua.
“ Ayo masuk nak,, “ Ajak ibu Dila
kepada kami sampai kami duduk di sofa yang empuk, dan jauh sekali dengan kursi
milikku yang terbuat dari kayu yang amat keras.
“ Kalian
teman-teman sekolahnya Dila ya.” Tanya mamah nya Dila sambil menyuguhkan kami
minuman dingin dan makanan kecil dengan beberapa toples yang berisi beragam
makanan didalamnya.
“ Iya tante.” Jawab kami serentak,
membuat mamahnya Dila tersenyum manis pada kami dan duduk bersama kami sambil
kami ngobrol-ngobrol bersama nya.
“ Mah ini
teman-teman Dila, dan ini Sarah mah yang Dila ceritakan itu..”
Hah ceritakan apa, apa yang Dila
ceritakan pada mamahnya, buat penasaran saja.
“ Ouh ini (
tersenyum ) kamu namanya siapa sayang??? .” Tanya mamah Dila padaku.
“ Ehmm,, Sarah tante..( tersenyum
).”
“ Ouh, terima
kasih ya kamu sudah membantu Dila belajar dan makanan yang dulu sempat di bawa
Dila itu hasil buatan ibu kamu ya??”
“ Iya tante, sama-sama kan gunanya
teman harus saling membantu. Dan kue itu benar tante buatan ibu saya ..” jawab
ku sambil tersenyum – senyum.
“ Iya tante, ibu ku juga sering
langganan sama ibu nya Sarah buat acara pengajian di majlisnya.” Ungkap Dina
pada mamah Dila.
“ Wah, sudah
terkenalnya enaknya kapan-kapan tante boleh dong buatin sama ibu kamu..” ucap
mamah Dila.
“ Iya tante bisa ko..”
“ Eh kalian
lulus ini pada mau ngelanjutin kemana, tante boleh tahu ?? “ Tanya mamah Dila
pada kami.
Bagaiman aku menjawabnya, kebayang juga nggak,, aku kasihan sama ibu
biaya masuk kuliah pasti lebih mahal dari sekolah SMA ( pikirku ).
“ Memangnya
Dila mau lanjut kemana, tante??.: Tanya Dina pada mamah Dila.
“ Ouh, kalau tante terserah Dila
saja, tante tidak maksa Dila.” Jawab tante Irma dengan penuh rasa keibuannya.
Aku sebenarnya ingin sekali melanjutkan
ke kedokteran tapi tak apa walau tak sampai aku kuliah itu sudah sangat
kusyukuri asalkan nantinya mencari pekerjaan menjadi lebih mudah, tidak sulit
seperti sekarang ini tanpa pendidikan yang kurang, kurang ijasah dan juga
kurang keahlian itu sebenarnya beban sekali.
Tapi aku yakin Allah bersama orang-orang
yang mau berusaha dan berdoa tinggal memantapkannya saja. Aku akan berusaha
mengabulkan harapan ayah dan ibuku untuk menjadi seorang sarjana.
“ Hey Sarah,
ngelamun aja dari tadi.. di minum dulu minumannya.” Sontak terkejut saat Dina
merusak lamunanku, hah buyar anganku sudah.
“ EHMM,,, tante, Dila sepertinya
sudah sore sebaiknya kami pulang dulu ya .” Ajak Agus.
“ Iya juga sih tan, “ Timpal Dina
sambil merapikan tas nya.
“ Eh sebentar
dulu kalian jangan pulang dulu ya..” ucap tante Irma sambil masuk ke dalam
rumah.
Lalu setelah Tante Irma kembali,
beliau telah menyiapkan 3 kantong yang diberikan kepada kita tanpa kita tahu
apa isi didalamnya.
“ Kalian
terima, sebagai tanda terima kasih sudah mau mampir ke rumah Dila.”
“ Tante repot-repot sekali, jadi
ngga enak jadinya.”
“ Tidak
apa-apa, nanti main lagi ya.” Sambil tersenyum, tante Irma melepas kepergiaan
kami, sungguh baik mamah nya Dila, sepanjang jalan kami bertiga terus
bercengkrama tentang kebaikan nya.
Saat aku sampai di rumah, ibu sedang
duduk di ters depan rumah sambil menjahit baju aku yang robek karena terkait
paku yang ada di pintu.
“
Assalamualaikum..( tersenyum ) ibu menjahit apa, bu??” Tanyaku.
“ Wa’alaikum salam, menjahit bajumu
yang terkait paku kemarin ndo, sudah pulang bawa apa, ndo.” Tanya ibu balik
padaku.
“ Oh ini, sampai lupa. Ini bingkisan
bu, dari mamahnya Dila teman aku bu, aku buka dulu ya bu “.sambil ikut duduk
bersama ibu aku, aku membuka bingkisan, wah ternyata saat dibuka, makanan dan
minuman cocok untuk cemilan.
“ Mereka
sangat baik ya, “
“ Iya bu mereka memang baik, ouh ya
bu, mamah nya Dila bilang nanti mau pesan kue-kue buatan ibu.”
“
Alhamdulillah, iya Nak.”
“ Kalau begitu Sarah masuk dulu ya
bu sekalin mau mandi dan shalat ashar.”
“
Iya, ndo. Bingkisannya simpan saja diatas meja, ndo”
“ Iya, bu…”
Kesederhanaan ku ini tak membuat aku
dan ibu menjadi orang pemalas, berkat doa dan usaha aku yakin Tuhan akan
tempatkan kita sesuai dengan porsinya, aku ingin suatu saat nanti bukan hanya
aku yang terus tangan dibawah, sesekali dan suatu saat nanti aku ingin
menjadikan tanganku diatas, karena tangan diatas lebih baik daripada tangan
dibawah.
Doa
dan harapan kepada Yang Maha Kuasa berkat doa ibu dan ayahku serta orang-orang
yang sudah sangat baik padaku. Kini telah menghantarkan aku kesebuah
Universitas ternama di Yogya, yaitu ya UGM, jaman sekarang siapakah orang yang
tak tahu UGM. UGM masuk ke jajaran Universitas di dunia, masih teringat aku
akan mahasiswa yang sukses setelah lulus dari UGM
Dan
masih tak terlintas dalam benakku kala aku bisa memijakkan kaki di Universitas
nan terkenal ini. Aku tidak boleh bermalas-malasan dengan apa yang aku dapatkan
ini, menjadi orang sukses itu sebenarnya tidak gampang perlu perjuangan dan
action yang lebih. Tantangan hidup yang terbesar bagiku adalah saat-saat dimana
aku harus pijakan kaki sendiri di tempat yang jauh dari ibuku dan tidak
mendengar suara lembutnya yang menyertai lelap tidurku.
Aku
teringat saat aku dipanggil oleh Pak Kepala sekolah untuk masuk ke ruangannya,
saat itu aku disuruh duduk didepan kepala sekolah tanpa bertanya sedikitpun.
Langsung bertanyalah Pak Kepala sekolah padaku.
“
Apa kamu tahu Bapak panggil kesini???”
“ Tidak, Pak.”
Saat Pak Kepala sekolah terdiam
sejenak, lalu Belian memberikan aku secarik kertas. Langsung ku baca ditempat,
setelah ku baca tertulislah didalamnya bahwa aku mendapatkan Beasiswa
Kedokteran tanpa pikir panjang aku langsung mengucap syukur kepada Allah swt
dan langsung mencium tangan Pak Kepala sekolah. Dan mendengarkan kebenarannya
dari Pak Kepala Sekolah. Ternyata aku mendapatkan Beasiswa hanya untuk
persemesternya saja tidak dengan biaya hidup tapi aku tetap bersyukur itu
mungkin Allah memberikan jalan terbaik lainnya bagiku.
@@@
Dan sekarang tinggal aku sendiri
menyelamatkan diri ini.
Setelah
melewati masa ospek atau penataran. Aku bertemu dengan teman- teman baruku yang
sama- sama mengadu nasib di beda kota, ada juga yang jauh dari luar jawa
namanya Silvi dia berasal dari Banda Aceh. Dia teman pertama yang berteman
denganku. Aku dengan nya tinggal satu kontrakan, yang Fifty-fifty lah. Untuk
dua bulan pertama kita berdua membayar dengan separuh uang kita. Namun untuk
beberapa bulan kemudian perlu aku pikirkan kembali.
Ternyata kuliah tidak semudah yang
kukira, persaingan pelajaran, pertukaran pelajaran kerap kali terjadi. Menjadi
mahasiswa teladan sangat di idam-idamkan, namun sebenarnya bukanlah mahasiswa
yang cerdas dalam akademiklah yang utama, cerdas akademik, intelektual, dan
spiritual itu yang paling penting.
Dan
aku harus dapatkan itu, setiap ada tawaran berorganisasi kenapa tidak aku
ikuti, lumayan lah buat tambah-tambah ilmu dan juga tambah – tambah teman.
Setiap pagi aku kuliah siang nya aku sempatkan untuk ikut berorganisasi, karena
jurusan yang aku ambil ini penuh dengan resiko, aku tidak terlalu sepenuhnya
penumpahkan kegiatanku diluaran sana, karena aku harus fokus dengan mimpiku
yang pertama.
Ya tahun demi tahun aku lewati
hari-hariku dengan penuh semangat tak pantang menyerah, karena apabila
semangatku kendor selalu ku lihat foto ibu yang sempat aku bawa dari kampung,
ibu melarangku untuk pulang ke kampung sebelum aku mendapatkan apa yang aku
ingin-inginkan selama ini, mungkin walaupun pahit ini sudah jalannya dari
Allah.
Tak
sedikitpun rasa malu didalam benakku, jika uang sakuku mulai menipis kusegera
berpikir jungkir balik untuk melakukan usaha kecil-kecilan agar aku bisa
mendapatkan uang jajan untuk besok karena kadang kala selalu saja ada iuran
dadakan, itu yang paling aku benci tapi mau apa lagi, masa iya aku harus
menjerit-jerit karena memang lembaran copian yang diberikan oleh dosen itu
untuk belajar para mahasiswa juga.
Saat musim praktek ke lahan telah
tiba, itu yang paling aku sukai, dimana aku bisa melihat pasien yang
sesungguhnya. Panggilan yang aku nantikan dan aku ingin tunjukan pada Ibu,
bahwa aku seorang CADOK ( calon dokter ). Ya Lumayanlah untuk penyemangat
walaupun sebentar lagi aku akan menyelesaikan semua ini. Yang aku harapkan ibu
bangga padaku..
“ Dr. Sarah “. Tanya salah satu
keluarga pasien yang menyusulku setelah beberapa menit aku pergi dari ruangan
rawat inap.
“ Ouh iya bu,
ada apa.” Jawabku dengan seyuman merona.
“ Saya punya sedikit bingkisan untuk
dokter, dokter terima ya. Ini sebagai tanda terima kasih saya karena sudah
merawat anak saya Nissa.” Jawab ibu tersebut dengan penuh bangga padaku.
“
Terima kasih bu, tapi ini memang sudah tugas saya.” Kata ku sambil menggeser
lagi bingkisan tersebut pada si ibu, yang sedikit kecewa terlihat dari
wajahnya.
“ Dok, saya ikhlas kok dok, dokter
terima ya.” Kata si ibu langsung memberikannya pada tanganku dan pergi berlalu
dengan cepatnya.
“ Ibu.. “,
teriakku tapi ya sudahlah gak enak juga kalau gak diterima, mungkin ini rizki
yang diberikan oleh Allah swt untukku.
Saat aku kembali ke mes yang sudah
disiapkan untuk para dokter muda, kutunjukan bingkisan yang diberikan oleh
seorang keluarga pasien lalu kubagikan pada teman-temanku yang lain.
“ Wah Sar, ini
bingkisan dikasih ya, enak banget deh sumpah.” Kata Via temanku yang terus
mencicipi bingkisan dariku.
“ Iya, tadi ada seorang ibu baik
banget sama aku”.
“ Wah, baru
jadi calon dokter saja aku udah merasa bangga, apalagi kalau sudah jadi dokter
beneran pasti orangmu bangga banget, benar begitu kan, Sar .”
Ya, itu sangat betul sekali. Maka dari itu aku
resapi semua detik demi detik harapan yang berubah menjadi kenyataan yang hanya
berawal dari keluarga nelayan dan penjual ikan asin, tapi ku tak pernah
memandang itu adalah salah ku, salah orangtuaku, ataupun salah Tuhan. Tapi ku
berterimakasih karena karena keberadaanku dahulu menghantarku kepada yang
namanya pantang menyerah dan berusaha bahwa didunia ini tidak ada yang tidak
mungkin.
“
Eh Sar, kenapa kamu. Kok dari tadi diliatin malah melamun sih. Ngelamunin siapa
sih, wah jangan-jangan di Rumah Sakit punya kecengan ya, ngaku deh siapa sih.
Boleh tahu gak???.”Kata Via sambil mendekat padaku.
“
Mau tahu banget..” Jawabku sedikit rahasia.
“ Ah, kamu mah
gitu pelit. Terus itu si Ryan mau di kemanain.” Ucap Via kembali.
“ Hah, memangnya kenapa sama dia,
Vi.” Jawabku sedikit penasaran.
“ Memangnya
kamu belum tahu, dia itu suka sama kamu Sarah. Ih udah lama keles kemana aja.
Gak peka bangit sih loh.” Perkataan Via barusan membuatku sedikit terbengong.
Tidak akan mungkin seorang anak
kedokteran yang cerdas, ganteng, ramah pula. Makhluk manapun pasti akan
terkesima melihatnya dan dia juga pernah mendapatkan IPK tertinggi sebelumnya.
Melihat kebiasaan, pergaulan, dan juga kesehariannya sepertinya dia jarang
banget main sama anak perempuan di kampus, dan baru aku tahu akhir-akhir ini
dia itu anak seorang dokter spesialis di sebuah rumah sakit di Jakarta, serta
rumah sakit lainnya di Yogya, ya aku sih cuma dengar saja, itu juga bukan dari
dia langsung yang pasti dari teman-teman yang rempong ngomongin kalau-kalau sih
ada berita bagus.
“ Tuh kan
bengong lagi, mikirin apa sih. Kalau ada masalah cerita saja Sar, mungkin aku
bisa bantu kamu. Atau – atau kamu gak percaya kalau Ryan suka sama kamu, nih
aku telepon ya dia. Biar dia bisa jujur sama kamu.” Cerocos Via, membuat ku
pusing.
“ Udah Vi, aku gak apa-apa kok. Aku
tidur duluan ya, badanku kayanya pengen diistirahatin nih.” Setelah bangun dari
tempat duduk aku langsung berangsut menuju tempat tidur.
Tetapi saat-saat mau terlelap,
kenapa pikiran ku malah tertuju pada Ryan, hah apa ini virus yang diberikan
sama Vi. Karena mau sampai mana pun aku mikirin, pikiran aku ini tidak akan
tercapai, Ryan itu terlalu ideal banget bagi deretan pria-pria ideal. Mendingan
aku istirahat karena besok harus bangun pagi dan melaporkan risetku pada dokter
seniorku, semoga besok berhasil.
@@@
“
Mana hasil kamu, Sarah.” Pinta dokter seniorku yang membimbingku saat dilahan
praktek, karena setiap cadok diberikan satu tanggung jawab untuk menyembuhkan
beberapa pasien dengan segelintir kasus penyakit. Kebetulan beberapa pasienku
yang aku tangani ada dua yang pertama namanya Nissa dia anak usia 7 tahun
dengan kasus Appendiksitis, dan yang
kedua yaitu Fyan dengan kasus Herni.
Tidak
hanya mengetahui jenis penyakit tetapi
aku harus mengetahui obat apa yang harus diberikan, bagaimana proses
penyembuhannya, dan juga apa yang aku harus lakukan terhadap kasus tersebut.
Setelah diberikan sekian pertanyaan oleh dokter akhirnya Alhamdulillah usai
juga walau ada beberapa pemecahan masalah yang harus aku pelajari lagi.
“ Gimana laporannya, Sar.” Tanya
Via.
“
Udah, tinggal melengkapi dan data lanjutannya nanti ditunggu apabila ada hal
lain yang belum selesai.”
“ Syukur deh… Eh tadi aku ketemu
Ryan tahu”
“ Vi…, ya
terus mau diapain kalau memang dia ada disini, lagian kenapa dia ada disini
bukannya dia bukan di Rumah Sakit ini ya..”
“ Tuh kan, diam-diam perhatian.
Haha… bilang aja kali kalau kamu juga suka sama dia haha..”
“Eh eh
udah-udah nanti ada yang merekam suara kamu lagi.”
“ Oh jadi kamu takut ya kalau-kalau
Ryan tau isi hati kamu,”
“ Yaialah, eh
eh ngga gitu maksud aku Vi..”
“ Tuh kan kepancing lagi, haha… udah
jadi aja lah.”
Lagi
seru-serunya becandaan sama Vi, tiba-tiba saja ada seseorang yang datang yaitu
Ryan yang dari tadi dibicarakan Sarah dan Via.
“ Wah-wah seru
banget nih ngomongin apa nih, tadi sempet denger sorry ya jadi apa nih. Boleh
tahu ??? .” tanya Ryan.
“ Dih Ryan kepo banget sih, iya kan
Sar.” ( padahal lagi ngomongin dia haha dalam hati Via bergumam ).”
“ Ehm iya-iya,
gak lagi ngomongin apa-apa kok.” Jawab Sarah dengan suara lembutnya.
“ Kalau boleh tahu lagi pada ngapain
disini, ada yang mau nemenin makan gak ???.” Tanya Ryan pada kita berdua.
“ Wah Yan,
seperti nya aku gak bisa, yang pastinya Sarah bisa dong, soalnya dia baru saja
selesai ngasih laporan ke pembimbing, iya kan Sar.” Ungkap Vi dan malah
memojoki Sarah.
“ @#??; .” Sarah.
“ Tuh kan
kalau diam Sarah itu berarti mau, udah ya kalian berdua saja, aku mau ke atas
dulu mau melengkapi data, by Yan.”
“ Hati-hati Vi…” ucapku setelah Vi mulai jauh meninggalkanku.
Well.
Sekarang aku sama orang yang semalam sempat mampir dipikiranku, aku tahu dia
itu tidak banyak bicara begitupun dengan aku, tapi kalau lagi presentasi kita
berdua selalu paling depan dan tak jarang adu argument. Mengulang pahit manisnya
di saat-saat perkuliahan memang sangat lucu banget, walaupun aku dan dia dari
keluarga yang sangat amat berbeda tetapi apabila kita berniat mencari ilmu sama
sekali tidak ada perbedaan derajat dan semua disamakan.
Malahan
dia sangat kagum dan bangga sama seseorang ya walaupun dari keluarga yang
sederhana tetapi dia serius dan berjuang untuk menggapai semua impiannya, aku
sangat terharu mendengar kata-kata bijaknya. Semua kata-kata yang keluar dari
mulut nya sungguh sangat mengandung makna, dan sepertinya aku tahu siapa yang
di bicarakan olehnya.
Pertemuanku dengan nya memang bukan
yang pertama kali, kerena mungkin karena kita satu prodi satu kelas dan juga
satu tujuan, namun perasaan yang berbeda yang ku rasakan saat ini membuat kami
sedikit canggung.
“
Eh kapan-kapan aku boleh dong ke Kalimantan ????.” Tanya Ryan disela
pembicaraan kami berdua.
“ Oh, ehm Kalimantan hah kamu pengen
kesana?? .” Tanya balikku padanya, penuh dengan rasa penasaran.
“ Hem,, iya.
Kalimantan .”
“
Memangnya kenapa pengen kesana, kan disana juga gak ada apa-apa.” Jelasku
padanya.
“ Bukanya
disana ada Sungai Kapuas yang Sungai terpanjang di Indonesia iya kan??
“ Iya sih, tapikan ya sama saja ya
Sungai Yan kaya yang lainnya.”
“ Ya tidak
apa-apa lah, nanti juga kan bisa mampir kerumah kamu dan bertemu ibu kamu
disana kan kamu juga jarang pulang kan?.”
“ ( Aduh kata-kata Ryan membuat aku
bingung apa maksud nya? ) .”
“ Gimana
Sarah, tapi hanya aku sama kamu saja ya yang tahu ( sambil berbisik padaku ).”
“ Maksud kamu itu apa sih Yan,
memang nya ada siapa lagi.”
Melihat sikap
nya yang seperti ini, memecahkan situasi yang canggung dan sok jaim haha dia
ternyata lucu juga, dokter muda yang terkenal sangat cool ini membisikkan
kata-kata yang aku pun tidak mengerti apa isi didalamnya, tapi aku iya kan saja
sok mengerti.
“ Oh iya kamu ada urusan apa kesini,
kan prakteknya bukan disini?? “. Tanyaku.
“
Memang nya gak boleh ya kalau aku pengen ketemu kamu, ehm maksud aku, aku
disuruh nganterin data anak-anak yang praktek disini sama Dr.Deni.”
“ Aku hanya bisa tersenyum dan
tertawa renyah padanya .”
“
Kenapa kok kamu ketawa ? Ada yang salah ya sama aku ?.” Tanya Ryan yang tak
menyadari dengan tingkah lakunya.
“ Ngga, kamu gak salah kok, cuma
aneh saja.”
“
Kok aneh sih, aneh kenapa ???.”
“ Aku juga gak tahu kenapa @////#$.”
“
Ah Sarah, tapi tak apa yang penting aku sangat senang melihat kamu bisa tertawa
lepas Sar.”
“ Oho ( terbatuk ).”
“
Loh, minum-minum nih, aduh pelan-pelan dong Sar .”
“ Gak usah, udah gak apa-apa kok .”
“
Ya Udah kalau gak apa-apa kamu masuk lagi aja, biar aku antar ya .”
Setelah keluar dari kantin,
tiba-tiba kami berdua bertemu dengan dokter
pembimbing dan tiba-tiba dokter langsung berdiri dihadapan kami berdua.
Aku tidak tahu kenapa tampang dokter tiba-tiba berubah dan terkadang
menggelengkan kepala disusul pula Vi datang dan menunjukan kepalan tangannya,
hah aku baru tersadar kalau dari tadi aku dan Ryan saling menggenggam tangan
dan kami langsung melepaskan genggaman tangan kami secara bersamaan, dokter
pembimbingpun pun akhirnya langsung pergi meninggalkan kami. Dan Vi langsung
menghampiri kami berdua.
“
Aduh ABANG NONE pada ngapain hampir
saja, untung pak dokter yang baik hati dan tidak sombong yang melihat, baru
ditinggal sebentar saja ehmm kalian udah jadian ya?.” Kata Vi tanpa jeda.
“
Ehm, aku balik dulu ya Sar, kamu udah ada Vi ini. Yuk Vi jagain Sarah ya
Vi .” Ryan pun Pergi.
“
Eh Ryan, aku ngomong panjang lebar dia malah pergi, wah ngeselin banget sih itu orang, eh Sarah kok
kamu juga pergi sih, eh tungguin aku dong Sar .” ucap Vi sambil berlari kecil
mengejar Sarah.
@@@
Malam nya saat handponeku tergeletak
di atas meja kecil dekat tempat tidurku, dan aku sendiripun berusaha
mentidurkan diriku padahal belum malam
banget sih karena baru saja aku menyelesaikan shalat isya, dan kebetulan aku
silent nada ponselku, karena aku tidak mau ada yang mengganggu acara baca
bukuku ehmm lagi mute saja sih.. tiba-tiba Vi langsung menghampiriku dan
langsung menyodorkan ponselku dihadapanku.
“
Aduh-aduh Sarah kenapa sampai di silent sih ponsel kamu biasanya juga engga,
nih lihat ada 3 pesan belum terbaca dan 2 misscall dari Ryan, kamu sengaja ya
karena marah sama Ryan, kok segitunya sih Sar .“ Begitulah kalau Vi udah ngoceh
ada pagarpun dia tabrak padahal kan aku tidak berniat begitu, sama sekali
tidak, aku iya in sajalah daripada dia nyerocos terus. Tapi walaupun dia selalu
berisik aku sangat sayang sama dia, bagiku dia adalah sahabat terbaikku sejak
aku masuk di kedokteran UI ini.
“
Iya, sorry deh aku cuma pengen tenang saja kok, kan lagi baca buku.” Ucapku
dengan nada yang melemah.
“ Ya udah nih sekarang minta maaf
sama Ryan, pasti dia merasa tersinggung atas tingkahlaku kamu barusan.” Sambil
menyodorkan ponsel padaku, Vi pun kembali ke ruang tengah yang kecil
melanjutkan permainan game nya, hem hobby banget dia sama game tapi gak di porsir
juga sih semua tetap dominan belajar.
Apa yang aku sent pada Ryan, 3 pesan
yang dia kirim barusan berisikan yang pertama ( Assalamualaikum Sarah, aku mau minta maaf soal tadi siang ) pesan
yang kedua ( Oke mungkin kamu lagi sibuk
ya memenuhi tugas yang diberikan sama dokter pembimbing? ), dan pesan yang
ketiga ( _Sarah aku baru merasakan
perasaan seperti ini sama kamu, aku tidak tahu kenapa ? _). Pesan dari Ryan
semua sudah aku baca tapi yang paling membingungkan itu adalah pesan yang ketiga.
Aku sent pesan kembali padanya, ( _ Wa’alaikum salam, tidak apa-apa soal yang tadi siang mungkin ada kesalahpahaman
saja, malam ini aku tidak terlalu sibuk cuma lagi baca – baca materi saja, dan
aku tidak mengerti tentang perasaan kamu saat dengan aku _.) .
Ah percuma saja message yang
terkirim sama sekali tak digubris olehnya, aku matikan saja ponselku dan
melanjutkan bacaku lalu setelah itu tidur. Hari demi hari aku akhirnya
menyelesaikan tugasku disini dan kami semua kembali ke kampus untuk
mempertanggungjawabkan hasil riset yang yang kami buat.
Rasanya
sulit – sulit mudah jurusan ini, tapi aku harus tetap bertahan setelah sampai
di kosan ku yang dekat dengan kampusku saat itu pula aku menelpon ibuku lewat
telepon rumah pak RT dan menceritakan kegiatanku untuk beberapa minggu yang
lalu, ibu terdengar sangat bahagia
mendengar kabarku barusan, dan setelah beberapa menit berlalu akupun
menghentikan pembicaraan ku dengan ibu sebenarnya masih ingin mendengarkan
suara ibu tetapi apadaya pulsa tak mencukupi untuk jarak yang lumayan bagiku.
Ya Allah sebenarnya aku sering
kepikiran ibu dikampung, tapi serindu-rindunya aku pada ibu, ibu selalu
melarang aku untuk pulang ke Kalimantan daripada buat ongkos pulang lebih baik
uang tersebut untuk biaya aku disini, jujur melihat kehidupan disini terasa
hidup beberapa puluh tahun lebih dahulu.
Karena semua serba instan dan jaman sudah sangat canggih kalau
ketinggalan sedikit namanya sih telat alias gagap teknologi ( gaptek) itu
sempat aku rasakan, tetapi semenjak bertemu dengan Vi dan teman lainnya mereka
sangat berbaik hati berbagi ilmu dan teknologi padaku, sungguh syukurku tiada
henti atas pemberian Tuhan padaku yang tiada tara.
Kesibukan dikampus dan kesibukan
lainnya telah menanti, aku harus tetap fress dan sigap dalam menyelesaikan
tugas-tugas ini biar lancar dan yang pastinya tidak keluar budget lebih untuk
biaya remedial, hah masih ada ternyata budget remedial yang harganya kalo di
totalkan keseluruhan bisa melebihi biaya kosan ku disini.
“ Sar, kamu
kelihatannya diporsir banget sih belajarnya???” Tanya Dewi salah satu temanku
sambil duduk-duduk di depan Fakultas.
“ Ah tidak juga deh Dew, biasa saja
dew .” Elakku padanya padahal sih ia.
“ Ya
kelihatannya sih gitu padahal kamu itu sudah sangat cerdas menurutku,
sepertinya kalau tidak belajar juga bisa deh kayanya kamu mengerjakan ini
semua.”
“ Dew, secerdas apapun kalau tidak
belajar tetap saja bodoh, ya kalau mau bisa ya harus belajar tentunya.”
“ Iya juga
sih, aku setuju tuh, eh kamu laper gak makan yuk, udah biar aku yang teraktir.”
Dewi langsung menarik tanganku dan diajaknya lah pergi.
Saat dikantin bersama Dewi, tak lama
sekali aku melihat Ryan yang baru banget datang dan dia kelihatan mencari
tempat duduk kebetulan tempat duduk semuanya penuh kecuali tempat yang diduduki
aku dan Dewi. Dia pun berjalan dan duduk disamping Dewi dan tentunya persis
dihadapanku.
“ Boleh duduk
disinikan ?.” Tanya Ryan pada kami berdua.
“ Oh boleh, silahkan saja .” Jawab
Dewi.
Dari sejak dia datang kekantin
kenapa suasana jadi berbeda begini, Dewi tidak terlalu peduli dengan keberadaan
Ryan Karena mereka tidak dekat dan yang dekat itu adalah Via. Dari tadi aku
lihat Ryan, demenjak dia berada dihadapanku sibuk sendiri dengan makanannya
seperti tidak peduli dengan keberadaanku didepannya, ( :P Plakkk ) memangnya
apa urusanku dengannya, tiba-tiba saja setelah Dewi membaca message dia
langsung becir dan pergi dengan cepat kilat entah siapa yang akan dia temui.
“
Aku kedepan dulu ya sebentar Sarah semua nya sudah tadi jadi kamu lanjutin saja makanya, nanti kita
ketemu lagi dikelas, by muach.” Setelah mencium pipiku tanpa dosa dia pergi
begitu saja, hah tinggal aku sama Ryan, mau alasan apa ya biar aku bisa pergi
dari sini, setelah Dewi pergi dia langsung memandangku yang terlihat gugup.
“ Kenapa ?.”
Tanya nya.
“ Hah (@/$#@ bingung ) kenapa apanya
?.” Balik Tanya.
“ Kok balik tanya
sih ya kamu!, sekarang mau kemana udah mau beres-beres saja, kamu mau meninggalkan aku makan sendirian
disini.”
Aku yang tadinya beranjak untuk
bangun jadi duduk kembali di hadapannya eh dia malah senyum-senyum gak jelas
padaku, jarang-jarang sih ehm jarang banget malah dia seperti ini dan terkadang
suka malu sendiri aneh juga. Aduh semakin lama aku semakin tidak kuat suasana
seperti ini diem-dieman tidak jelas mending aku pergi saja dari sini ( mencoba
kabur ) .
“Tetapi,
apa !” Ryan membuat jantungku semakin gak karuan dia menarik tanganku, ada
acara apaan sih ini kenapa kaya di film-film hollywood. Diapun akhirnya terbangun dari kursinya dan
melepaskan tangannya yang menarikku.
“
Ehem ( Batuk kecil ) Sar kamu mau nganter aku gak, kamu kelihatannya gak ada
acara, iya kan?.” Ajak Ryan padaku.
“ Kemana? Tanyaku penuh dengan rasa
penasaran tapi membingungkan.
“
Ehm ke Gramedia ada buku yang ingin sekali aku beli kebetulan ada buku yang
baru terbit, ya keburu cetakan pertamanya habis soalnya bukunya best seller
banget sih, mau kan ?.” Dia mengajak dengan sangat antusias, tidak biasanya dia
mengajak orang lain, biasanya dia
sendirian terus dan kalau kemana-kemana ya tertutup begitulah.
“ Sepertinya
gak bisa Yan, tadikan kamu dengar aku sama Dewi mau ketemu di kelas, nanti aku
gak enak sama dia.” Keluhku sama dia dan
terlihat membuat dia kecewa ( sedikit lega ).
Tak lama Dewi menelponku dan dia
bilang dia mau pergi dulu sebentar sama saudaranya yang beda Fakultas, Dewi
kenapa menelpon diwaktu yang amat sangat tidak pas, terdengar kembali deheman
kecil yang aku yakini itu suara Ryan.
“
Nah itu Dewinya mau pergi ( mendengarkan pembicaraan ), terus kamu mau kan
nganter aku, sebentar saja kok nanti aku bakal anter kamu ke kosan kamu lagi
deh ???.” Ajak Ryan untuk yang kedua
kalinya yang sedikit memelas, sebenarnya aku juga tahu ada buku penulis
favoritku yang baru terbit, ya apa daya uang nya belum cukup, lebih baik aku
pakai untuk makan besok pagi.
“
Ya udah deh aku mau.” Peluhku saat mengiyakan ajakan dari Ryan.
“ Oke kalau begitu ayo,” Ryan
terlihat senang banget, jadi ikut senang melihatnya.
Kamipun
akhirnya berangkat dengan menggunakan sebuah mobil yang dibawa Ryan setiap hari
ke kampus, sebuah mobil hitam yang sangat bersih dan apik, dia sempat
membukakan pintu untuk ku berasa jadi tuan putri tapi sedikit haha, sebelum
berangkat Ryan sempat message seseorang tapi aku tidak tahu siapa yang berada
dibaliknya. Setelah 30 menit perjalanan tanpa celah macet sedikitpun ternyata
Ryan mampir disebuah RS di daerah sekitar.
“ Loh kenapa
ke RS ?.” Tanya ku sedikit bingung.
“
Ada seseorang yang ingin aku temui sebentar, ayo turun dulu yuk dan
sekalian ada sesuatu yang ingin aku ambil dari RS ini.” Setelah Ryan sedikitnya
menjelaskan apa maksud kedatangannya kesini aku pun beranjak turun dan
mengikutinya, karena tak aneh seorang Ryan datang ke RS pengalaman nya juga
lumayan lebih banyak dari teman-teman yang lain ya karena dia memang lebih
aktif.
Setelah sekian menit berjalan dia
langsung mengetuk pintu dan mengucapkan salam, terdengar suara dari dalam yang
menyuruhnya masuk. Akhirnya masuklah kami berdua dan bertemu dengan seorang
Dokter yang sibuk dengan dokumen-dokumen diatas mejanya dan mereka langsung
berpelukan, apa dokter ini ayah Ryan seperti kabar dari teman-teman ayah Ryan
adalah seorang dokter spesialis di RS-RS besar, setelah mereka sedikit melepas
rindu, Ryan langsung mengenalkan aku pada Dokter tersebut.
“
Pah kenalin ini teman Ryan, Sarah pah, dan Sarah ini papahku, beliau salah satu
dokter senior disini.” Ucap Ryan pada Dokter tersebut dan padaku.
“
Senang bertemu dengan OM ( tersenyum ) .” Sapaku pada ornagtua Ryan.
“
Oh ini yang namanya Sarah itu, yang kamu sempat ceritakan sama papah, anaknya
cerdas, mandiri dan tentunya cantik .” Ungkapan jujur yang tidak tahu darimana
asalanya untuk mengetahui semuanya. Sebelum aku mengelak Ryan langsung nyerobot
duluan.
“ Ogh engga-engga papah aku cuma
senang intermezzo ya intermezzo papah itu orang nya senang banget puji orang,
ya walaupun pada kenyataannya itu.” Sambil menggaruk kepala yang tak gatal dan
sedikit malu-malu, terlihat papah Ryan terus tertawa renyah melihat keanehan
anaknya yang satu ini. sebenarnya ada bingung juga sih aku, tapi sudahlah
melihat keakraban anak dan orangtua, sedikitnya membuat aku teringat pada ayah ku, ayah sebentar lagi anakmu akan meraih
cita-cita yang ayah idam-idamkan.
“
Ouh iya pah, sekalian kau mau ambil buku yang minggu lalu.”
@@@
Saat
kembali kedalam mobil untuk sesegera menuju Gramedia, diperjalanan mungkin bisa
dibilang aku sedikit murung, mungkin karena aku terharu dengan pertemuan tadi.
“
Kamu kenapa Sarah, kalau ada masalah kamu bisa kok cerita sama aku.” Ryan
menawarkan diri untuk mendengarkan keluh kesahku.
“ Oh gak apa-apa, melihat papah kamu
aku jadi teringat sama ayahku .”
“
Sarah, aku mengenal kamu dengan sosok yang sabar dan gigih, kamu tidak boleh
sedih sebaiknya kamu mendoakan ayah kamu, dan kamu bisa juga anggap papah aku
sebagai ayah kamu, Sar .” Ungkap Ryan dengan keseriusannya.
“
Udah gak apa-apa kok aku udah biasa seperti ini, dan itu tidak akan mungkin
papahmu ya papahmu, selamanya tidak akan menggantikan ayahku di hatiku.”
“
Maaf ya kalau aku membuat kamu tambah sedih sama sekali aku gak bermaksud .”
“ Iya gak
apa-apa, jadi santai saja Ryan.”
Tak lama sampailah aku dan Ryan di
Gramedia, setelah lumayan lama mencari buku yang diingini dan tak tahu apa yang
dia cari terlihat dikantung Ryan membeli beberapa buku tanpa ku ingin tahu
isinya itu apa.
“ Ayo .” Ajak Ryan sambil melemparkan senyuman
manisnya sangat terlihat kharismanya.
Dan aku ikut saja kemana Ryan pergi
udah kaya kelangkangnya saja dari tadi siang, Ryan sempat menawarkan makan
padaku tetapi akau menolaknya, karena memang aku masih kenyang. Sesuai dengan
janjinya dia mengantarkan ku ke kosan.
“ Terima kasih
ya Yan udah nganterin aku pulang ( Menutup pintu mobil ) .”
“ Aku yang berterima kasih sama
kamu, sampai bertemu besok.” Ujar Ryan sedikit melantangkan suaranya, dan pergi
melaju.
Di dalam Kos…
Aku langsung membaringkan badanku
pada tempat tidur dan memang lumayan pegal, perasaanku saat ini bercampur aduk
pokonya. Saat aku mau mengamil ponsel didalam tas aku merasa ada yang aneh
kenapa ada…
“ Hah, ini
buku yang aku ingini karya Asma Nadia, ya Ampun Ryan baik banget sih kapan juga
nyimpennya.”
Dan saat aku mau membuang plastik
putih kecil ke tempat sampah aku merasa ada
selembar kertas yang tersimpan disini, langsunglah aku baca.
To Sarah
Sebenarnya aku tak berniat ke Gramedia, namun karena
aku tahu kamupun suka baca dan salah satu dari sekian penulis yang kamu suka
menerbitkan buku baru best seller, aku jadi ingin memberikan ini untukmu semoga
kamu senang ya, maaf kalau cara aku memberikannya sedikit tidak sopan aku harap
kamu mau menerimanya.
From Ryan
Langsunglah aku menjerit kecil tanda
kegirangan yang tiada henti, dan tentunya rasa ingin cepat membaca dan
menyelesaikannya yang paling penting. Ternyata memang semuanya sudah
direncanakan oleh Ryan mulai dari duduk
dihadapanku, mengajakku menemui papahnya, dan ke gramedia, semua sukses tanpa
cacat untuk mengelabuiku. Ryan-Ryan memang benar-benar cerdas banget tuh orang.
@@@
Hari berganti minggu dan terus
berganti bulan dan akhirnya sampailah aku dipenghujung waktuku menyelesaikan
tugasku dan yang pasti harapan ayah dan ibuku, beberapa hari yang lalu kami
semua telah menyelesaikan Ujian Kompetensi yang dilaksanakan di pusat.
Harap-harap cemas kami menunggu semua hasilnya. Tak lupa kami berdoa dan
meminta restu ibu masing-masing.
Begitupun kewajiban kami dilahan praktek setelah semua terpenuhi tinggal
menungggu keputusan.
Saat aku berjalan sambil membawa
buku-buku yang harus dibawakan kemeja salah satu dosen diruang akademik,
lumayan berat sebenarnya karena lembarannya tebal-tebal banget, tanpa kusadari
hampir saja berjatuhan buku-buku ini, namun Ryan tiba-tiba muncul persis
dihadapanku.
“ Hai, aku
boleh bantu kamu kan, sini separuhnya biar aku bantu !! .” Usul dia padaku
sambil memegang beberapa buku dari kedua tanganku.
“ Oh tidak usah aku bisa sendiri kok.”
Ucapku sambil menghindari tangannya dan akhirnya membuat beberapa buku jatuh kelantai, bukannya kesal
eh dia malah tersenyum-senyum, dan dia mengambil buku-buku yang berjatuhan
tadi.
“
Aku bilang apa kan, sini aku bantu bawain ngeyel sih.” Tampangku masih plet
walaupun dia berusaha so manis, lalu dia mengambil beberapa buku dari tanganku.
“
Ayo jalan, mau aku bawakan semuanya. Kok malah diam sih .” Kata Ryan, dan
akupun mulai melangkahkan kakiku sedangkan dia mengikutiku persis disampingku.
Diperjalanan
dia lebih dulu mengawali pembicaraan diantara kami berdua.
“
Sar, “. Kata Ryan dengan suara yang terpotong-potong.
“ Sarah. “ Mengulang kedua kalinya.
“
Ada apa. Kalau mau ngomong, ngomong saja
Yan.” Responku padanya.
Tetapi dia tetap tidak berbicara,
dan malah ngomong yang tak jelas, aneh banget sih dia. Dan akhirnya kami sampai
dimeja yang dituju.
“
Taruh disini semua ya pak .” Ucapku pada salah satu dosen didalam ruangan.
“ Oh terima kasih ya Sarah, eh ada kamu
Yan. Wah makin keren saja Yan .” Ucap Pak Dedy pada Ryan sambil mengakrabkan
diri padanya dengan menepuk pundak Ryan.
“
Terima kasih Pak, bapa juga makin berwibawa saja.” Balas Ryan membuat Pak Dedy
makin pede.
“ Ah kamu bisa saja Yan, salam buat
Papahmu kau ya.”
“ Siap Pak,
pasti disampaikan.”
Kami pun segera keluar dari ruang
tersebut, dan setelah aku lebih dulu keluar Ryan terus mengikutiku dari
belakang.
“
Kamu mau kemana memangnya Yan.” Kataku sambil membalikkan badan ke belakang.
“ Ehm,, mau ke .. ( Belaga bingung )
oh iya mau ke Via, iya ke Via.” Balas Ryan dengan terbata-bata.
“
Oh Via, sepertinya Via belum datang mungkin 10 menitan lagi .”
“ Oh begitu ya, ya udah deh. Terus
kamu mau kemana ?.” Tanya Ryan balik.
“
Aku !, aku sih mau ke Dewi .” Ucapku padanya.
Dan tak lama
Via datang.
“
Hai semua, Waw tumben kalian berduaan jadi kabar terbaru nih dikampus .” Ucap
Via dengan gayanya yang rame. Melihat aku dan Ryan diam karena bingung dengan
tingkah dia yang heboh, Via langsung menggandeng tangan kita berdua lalu
menariknya.
“ Daripada diem, ayo semua ikut aku.
@@@
Sebenarnya aku merasa heran dan
bingung dengan sikap Ryan kadang perhatian kadang juga cuek, semua yang
dikatakan oleh Via itu tidak sesuai dengan sikap yang ditunjukan Ryan padaku.
Tapi sesuai dengan harapanku, Ryan juga termasuk orang yang masuk ke daftar
orang-orang yang berperan selama perjalanan hidupku ini, terima kasih Tuhan
atas semua ini, aku sangat bersyukur Engkau memberika orang-orang baik
disekelilingku sungguh aku tidak bisa membalas kebaikan mereka hanya Engkau
yang bisa membalasnya.
Aku
pernah berjanji pada ibu kalau misalnyasudah dibagikan hasil kelulusan dan
sudah dinyatakan lulus aku akan pulang ke Kalimantan ataupun ibu yang pindah kesini
tapi apa ibu mau?. Ibu harus menjadi saksi sejarahku saat aku wisuda nanti
karena itulah yang ibu dambakan selama hidupnya, terima kasih bu.
Kini waktunya tiba surat kelulusan
akan diberikan hari ini semua mahasiswa/i berkumpul melihat hasil usaha mereka
selama 4/5 tahun ini. Saat menunggu para dosen membawa surat tersebut aku
melihat teman-temanku dengan sekian ekspresi ada yang tenang-tenang saja, ada
yang merenggut, ada yang komat-kamit, ada yang santai main gutget ada yang
menelepon orang tuanya meminta doa restu, ada yang berkaca-kaca matanya, ada
yang ngobrol dengan santainya. Ya itu Ryan dengan kedua temannya Fandy dan Vino
dan mereka juga termasuk mahasiswa pandai tak ayal mereka santai dengan hasil
kelulusan hari ini mungkin mereka sudah yakin, berdoa penuh dan berusaha penuh
dan ikhlas dengan hasil yang ada.
Tiba – tiba Ryan mengalihkan
pandangannya padaku, mungkin sadar kalau aku memperhatikannya, sebenarnya bukan
dia saja sih tapi semua yang ada disini aku lihat satu persatu, karena aku
bangga menjadi salah satu orang didalamnya, saat ku perhatikan lagi ya ampun
ternyata dia masih memperhatikanku ketahuan deh jadinya, tetapi dia malah
memberikan senyuman cool nya, dia memang perfect kalau dibandingkan dengan
calon dokter oh iya sebentar lagi gelar dokter akan kita sandang,
Alhamdulillah.
Dan tak lama beberapa dosen datang
dan tentunya gelar dokter sudah terpampang jelas di nametage jas yang dikenakannya,
setelah acara seremoni atau basa-basi lah bisa dibilang, amplop satu persatu
telah sampai ditangan para mahasiswa. Semua menangis terharu melihat hasil yang
mereka dapatkan begitupun dengan Via dan Dewi yang senang kegirangan saat
dinyatakan lulus, hatiku semakin cemas saat tinggal beberapa orang lagi yang
tersisa dan diantaranya aku dan termasuk Ryan. Ryan masih tetap terlihat santai dan terlihat
tidak ada beban walaupun dia sudah habis-habisan untuk menyelesaikan
kewajibannya, tapi menurutku ada ekspresilah sedikit, deg-degan gitu gelisah
gitu tapi tidak terlihat sama sekali, memang sulit dipahami.
Namun setelah nama ku dipanggil
duluan daripada dia, dia malah bilang sambil tersenyum-senyum padaku.
“
Good Luck Sarah .” Kata Ryan menyemangatiku, udah kaya mau melintasi pertualangan
sherina saja, aneh.
Kubuka surat yang kugenggam dengan
hope yang tersimpan yang selama ini menghantuiku, akhirnya aku ( LULUS )
Alhamdulillah tak putus-putusnya aku berdoa pada-Mu RABB, semoga kelulusan
menjadi kebahagiaan bagiku dan ibuku.
Perayaan wisuda tahun ini
dilaksanakan disebuah gedung yang sangat istimewa itu menurutku dan ibuku yang
baru sampai dari Kalimantan ditemani pamanku dari ayah yang tinggal di Jakarta.
Para tamu undangan sudah duduk menempati kursi yang tersedia jauh disana aku
melihat ibu dan paman, namun aku harus berada dibarisan mahasiswa dan menerima
penghargaan serta toga yang kami kenakan akan dipindahkan pertanda kami lulus
menjadi seorang dokter dan bukan calon dokter lagi.
Semua haru dan bahagia bercampur
sudah digedung ini, dan setelah semua turun aku langsung menghampiri ibu dan
paman, mereka sangat bahagia sekali melihat aku menyandang gelar dokter,
langsung ku berikan sepucuk bunga mawar yang ku pegang pada ibu dan kuciumi
tangan ibu dan juga kedua pipi ibu, tak ada satu katapun dari mulut ibu. Ibu
terus mengusap-usap air mata yang terus mengalir dipipiku, begitupun pamanku
walaupun dia seorang laki-laki tapi tak ayal ternyata bisa menangis
tersedu-sedu juga untungnya paman menyiapkan sapu tangan kecil.
Tanpa aku sadari seperti biasa Ryan
datang menghampiriku dengan membawa sepucuk mawar yang sama denganku tadi,
tetapi kenapa tidak dia berikan kepada orang tuanya, dan kenapa juga dia
menghampiriku.Tak lupa memberikan senyuman manisnya kepada ibu dan paman, dan
mencium tangan ibu dan paman sungguh aneh membuat suasana menjadi sunyi, ibuku
kan jadi bingung kalau mau acting wong jangan disini bang.
“
Siapa Nak, ini teman kamu ?.” Tanya IBU.
“ Iya bu, ini temanku .” Jawabku
pada ibu, sambil melihat Ryan yang terlihat menarik nafas sangat panjang.
“
Oh, sopan sekali temanmu ini Nak .“ Resfon ibu setelah beberapa detik.
Tiba-tiba saja
Ryan seperti ingin mengatakan sesuatu namun sulit untuk diucapkan.
“
Sarah maaf sebelumnya kalau aku terburu-buru mengatakannya padamu.”
“ Ada apa memangnya, Yan ?.”
“ Sebenarnya….
.”
Baru saja beberapa kata Ryan
merangkai sebuah kata yang aku tidak jelas apa maksudnya, datanglah dua orang
tua dan saat semakin dekat ya aku mulai mengenalnya itu adalah Papah Ryan dan
pastinya wanita disampingnya adalah Mamah Ryan, mungkin saja baru sampai
makanya Ryan menghampiriku karena keluarganya belum datang.
Papah Ryan tiba-tiba menepuk pundak
Ryan dan merangkul Ryan dari sisi kiri Ryan, lalu memperjelas kalimat yang
diucapkan Ryan dengan kalimat yang lebih dimengerti daripada yang diucapkan
Ryan.
“
Selamat siang Sarah, ibu nya Sarah dan keluarga. Perkenalkan saya Dr. Wahyu
orangtua nya Ryan dan ini isteri saya dan yang gagah ini adalah anak saya, namun
dia mempunyai kekurangan yaitu tidak bisa mengungkapkan perasaan yang selama
ini sudah sangat lama terpendam, saya beserta keluarga sebenarnya ingin melamar
anak ibu Sarah untuk menjadi isteri anak saya ( Ryan ), ya saya minta maaf
mungkin tempatnya tidak etis untuk acara lamaran.” Jelas papah Ryan pada
keluargaku, sungguh membuatku syok setengah mati, sungguh tidak bisa dipercaya
ternyata semua ini benar adanya dan Via tidak berbohong dan jadi selama ini
sikap dia padaku benar adanya.
“ Om maaf Sarah potong, Om aku dan
Ryan sungguh sangat berbeda Om, tarap hidup kami jauh sekali dari keluarga
kalian.”
“
Sarah, kenapa kamu mengatakan seperti itu didepan kami, kamu menganggap kami
suka membeda-bedakn derajat kehidupan, bukankah kamu sering mengajarkan aku dan
teman-teman semuanya bahwa kita semua sama dan yang membedakan itu adalah
ketakwaan kita kepada Allah swt, apa kamu masih ingat.” Begitulah kata bijak
yang dilontarkan oleh Ryan padaku.
Ryan sungguh
membuat aku terdiam dengan kata-katanya.
“Bagaimana
Sarah kalau memang kamu menerima aku, kamu ambil bunga Mawar ini dan kalau
memang kamu tidak menerima aku kamu bisa pergi dari hadapanku, aku tidak perlu
basa-basi dengan yang namanya pacaran yang hanya mengabiskan waktu saja tetapi
aku memberikan bukti padamu bahwa aku siapa meminangmu langsung dihadapan
keluargaku dan keluargamu.”
Sungguh aku sangat bingung sekali
dengan pilihan ini, jauh sebelum ini mungkin aku juga menaruh cinta padanya,
tapi terkadang aku juga menyadari darimana asal diriku dan keluargaku, apa
mungkin ini adalah Anugerah dari Allah swt, aku lulus menjadi seorang dokter
dan mendapatkan suami dokter juga mendapatkan mertua seorang dokter. Tuhan, ini
semua terlalu berharga bagiku untuk
menerimanya. Namun jika tidak mungkinkah Engkau akan murka padaku karena tidak
menerima Nik’mat terbesar Mu.
Aku tidak langsung menerima Ryan
begitu saja, aku sempat bertanya pada ibu dan andai ayah masih ada disini pasti
aku juga akan bertanya pada ayah. Tetapi ibu mengikhlaskan semuanya padaku dan
tidak menuntut paksa untuk masa depanku menjadi seorang dokter seperti yang
diharapkan ayah saya ibu sudah sangat bahagia, aku cinta kalian ibu ayah.
Setelah aku melewati masa-masa
galauku, aku langsung memutuskan dan sesuai dengan pilihan yang diajukan, aku ambil
mawar yang berada di genggaman Ryan, lalu melemparkan senyumku pada Ryan, dan
dia malah membuat kaget setengah mati saat dia tiba-tiba memelukku dengan
sangat erat.
“
Terima kasih Sarah, aku mencintaimu Sarah “ Begitulah yang diucapkan Ryan
dengan tetap memelukku.
Kini kebahagiaan bertambah diantara
kami, mamah Ryan juga sempat memeluk ibu, dan papah Ryan memeluk pamanku.
Ternyata memang benar kebahagiaan itu tidak akan bisa kita dapatkan apabila
kita hanya berdiam diri dan tetap pada zona nyaman, tetapi kebahagiaan itu akan
tiba, saat kita sudah maksimal dalam froses menuju kebahgiaa itu, akhirnya aku
dan Ryan melempar TOGA kami ke atas langit.
Ayah walaupun ayah tidak berada
disini lagi, lihatlah ayah kini anakmu sudah meraih cita yang di dambakan,
kupersembahkan kebahagiaan yang full ini untuk ayah disyurga sana, AKU SAYANG
IBU DAN AYAH selamanya.
@@@
Kini aku sekarang sudah bekerja di
sebuah RSUD di Jakarta begitupun dengan Ryan dan kami membuat Rumah disini
dengan hasil kerja kami tanpa sedikitpun membebani orangtua kami berdua, dan
ibu tentunya ikut denganku, karena hanya ibulah keluargaku yang tersisa.
“
Dokter Sarah terima kasih ya Dok, berkat dokter sekarang anak saya sudah sembuh
dan Alhamdulillah hari ini bisa pulang .” Begitulah kata salah satu orangtua
pasien kepadaku.
“ Sama-sama ibu, saya hanya sebagai
perantara saja bu, sesungguhnya yang menyembuhkan itu adalah Allah swt .” Tukas
ku pada ibu tersebut.
“
Benar bu, sekarang anak ibu bisa istirahat dirumah dan sebentar lagi bisa main
lagi sama teman-temannya, iya kan sayang ( Pada anak ibu tersebut ).” Ungkap
Ryan yang tiba-tiba datang menghampiriku saat mengucapkan perpisahan pada
keluarga pasien, kebiasaan datang tiba-tiba sungguh tidak bisa dihilangkan.
“ Eh Dr. Ryan, terima kasih ya dr.
Ryan, dr. Sarah. Kalian sangat baik .” Kata Sifa anak kecil yang menjadi
pasien.
Tangan kiri
Ryanpun langsung merangkul pundakku dan tangan kanannya memegang jari-jemari
anak tersebut, aku sangat senang sekali melihatnya aku bisa melihat wajah Ryan
persis disamping wajahku.
INI ADALAH SEBUAH HARAPAN YANG BERAWAL DARI MIMPI
SEORANG ANAK YANG BERASAL DARI KALIMANTAN TIMUR.
“ HOPE IS A DREAM, TO BE A WINNER “
Terima kasih
ya yang sudah menyempatkan membaca Novelku, maaf ya kalau ada salah-salah dalam
merangkai kata maklumlah baru belajar, hehehe,, J.
Tolong tulis di komentar ya jujur saja ya biar bisa membangun saya agar bisa
membuat karya yang lebih baik lagi hehehe J
Tulis nama
kamu, Fb, twetter sama isi kometarnya ya, Peace…. @ SALAM SAHABAT
Biodata Penulis
Nama : Meri Diana
Armat
TTL : Bekasi, 07 September
Alamat : Kp Gandaria
RT 03/02 Ds.Cipayung, Kec.Cikarang Timur, Bekasi Timur.
Pendidikan : SDN
Cipayung 01/ Madrasah Iftida’iah ( MI), Mts AL-Muhajirin, MA Negeri Cikarang
Utara, D III Kebidanan UNSIKA
Hobby : Baca novel,
menulis, mendengarkan music, membuat kratifitas, main dong kumpul sama
teman-temanku..
Pengalaman Menarik :
Haha@@@ di Tegur sama petugas BUSWAY karena makan BA’PAU didalam Busway udah
jelas-jelas ada larangan dilarang makan dan minum, hahay bersama @Meri diana
@yuyun_yuningsih, @mfu_chuanes, @Dhea_hadfera
Kesan : Ternyata
berbagi pengalaman itu asyik loh,, mumpung masih muda perbanyaklah pengalaman
fositif jangan dibuang tidak berguna, keep smile.
Pesan : Jangan
menganggap setiap masalah itu kecil karena masalah kecil bisa saja menjadi
masalah yang sangat besar. Jangan lupa juga ibadahnya ya, yg sudah rajin
ditingkatin yg sdh ditingkatin diistiqamahin, hihi…
Fb : Mery.diana51@yahoo.com
Twetter : Meridiana@yahoo.com
Gmail : mery.diana51@yahoo.com
E-mail : meridianaarmat@yahoo.com









Tidak ada komentar:
Posting Komentar